Amerika Serikat (AS) telah berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Operasi ini dilakukan dengan melibatkan badan intelijen utama AS, yaitu CIA, serta pasukan elit Delta Force yang dikenal dengan kemampuan misi khususnya. Menurut laporan dari CBS News dan BBC pada Minggu (4/1/2026), Maduro ditangkap pada Sabtu dini hari oleh unit Delta Force, sebuah pasukan khusus militer AS yang sering ditugaskan untuk misi berisiko tinggi seperti kontra-terorisme dan penyelamatan sandera.
Kesuksesan operasi ini tidak terlepas dari peran seorang sumber dalam pemerintahan Venezuela yang diyakini merupakan agen CIA. Sumber tersebut berhasil memberikan informasi akurat mengenai lokasi persembunyian Maduro, sehingga memungkinkan AS untuk merancang serangan dengan presisi tinggi. Ini merupakan bagian dari operasi intelijen AS yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, termasuk pengamatan terhadap kebiasaan harian Maduro, seperti pola tidur, makanan, pakaian, hingga hewan peliharaannya.
Operasi yang diberi nama “Absolute Resolve” ini dipimpin oleh Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, yang menyatakan bahwa perencanaan dan latihan telah dilakukan secara intensif selama berbulan-bulan. Pasukan AS memilih waktu yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi cuaca. Lebih dari 150 pesawat dikerahkan untuk membawa pasukan menuju ibu kota Venezuela, Caracas. Tim tiba di kompleks persembunyian Maduro, yang digambarkan oleh Presiden Trump sebagai benteng yang sangat kuat, pada pukul 02.01 waktu setempat.
Sebelum penyerbuan, pasukan AS terlebih dahulu memadamkan listrik di seluruh Caracas untuk menciptakan kebingungan dan mengurangi kemampuan pertahanan. Maduro dilaporkan sempat mencoba masuk ke tempat aman yang diperkuat baja, namun pintu tersebut tidak dapat ditutup tepat waktu. Trump menyatakan bahwa tidak ada pasukan AS yang tewas dalam operasi ini, dan hanya terdapat sedikit korban luka.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kemudian dibawa ke sebuah kapal dan selanjutnya ke pesawat yang membawa mereka ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di New York. Ini merupakan intervensi militer AS terbesar di Amerika Latin sejak Perang Dingin, dan operasi ini dijalankan dengan kerahasiaan yang sangat ketat hingga Kongres AS tidak diberitahu atau dikonsultasikan sebelumnya.
Sebelum operasi dimulai, intelijen AS telah memantau gerak-gerik Maduro selama berbulan-bulan. Sebuah tim kecil, termasuk informan AS di dalam pemerintahan Venezuela, diyakini telah mengamati di mana pria berusia 63 tahun itu tidur, apa yang dia makan, apa yang dia kenakan, dan bahkan, menurut para pejabat militer tinggi, ‘hewan peliharaannya’. Pasukan elite AS disebut membuat replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas. Hal itu dilakukan untuk melatih rute penyergapan mereka.
Perintah dari Trump untuk memulai misi datang pukul 22.46 waktu AS, Jumat (3/1). Yang terjadi selanjutnya ialah misi selama dua jam dua puluh menit melalui udara, darat, dan laut yang mengejutkan banyak orang. Perintah ini memberi militer beroperasi sebagian besar pada malam hari, beroperasi dalam kegelapan. Dari segi skala dan ketelitian, serangan ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu langsung menuai kecaman dari beberapa kekuatan regional.
Unit elit Angkatan Darat Delta Force AS sendiri telah dikerahkan dalam misi tahun 2019 yang menewaskan mantan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Delta Force secara resmi dikenal sebagai Detasemen Operasional Pasukan Khusus ke-1-Delta. Pasukan ini merupakan kelompok militer operasi khusus yang ditugaskan untuk misi berisiko tinggi, seperti kontra-terorisme, penyelamatan sandera, dan penangkapan atau eliminasi target bernilai tinggi untuk Amerika Serikat. Unit ini beroperasi di bawah kerahasiaan yang ketat, dan misinya jarang diakui secara publik oleh pihak berwenang. Unit ini sebelumnya terlibat dalam beberapa operasi militer AS yang paling penting, termasuk penangkapan Saddam Hussein pada tahun 2003.
Unit ini juga melakukan banyak misi di Afghanistan dan tempat lain di Timur Tengah, menargetkan tokoh-tokoh senior al-Qaeda. Unit ini juga bertanggung jawab atas pencarian gembong narkoba Kolombia Pablo Escobar dan mantan pemimpin Panama, Manuel Noriega. Delta juga berpartisipasi dalam misi di Suriah pada Juli 2014, namun gagal menyelamatkan warga AS yang ditawan oleh ISIS.
Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Institut Keamanan Internasional (2025) menunjukkan bahwa operasi militer AS yang melibatkan pasukan khusus seperti Delta Force cenderung memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan operasi konvensional. Penelitian ini menganalisis 15 operasi rahasia selama dekade terakhir dan menemukan bahwa 87% dari operasi tersebut berhasil mencapai tujuan utamanya, terutama ketika melibatkan intelijen dalam negeri seperti yang terjadi dalam operasi penangkapan Maduro. Keberhasilan ini didukung oleh teknologi pengintaian mutakhir dan latihan simulasi yang mendetail.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Operasi penangkapan Maduro bukan sekadar tindakan militer, tetapi juga merupakan contoh sempurna dari bagaimana kekuatan soft power dan hard power dapat digabungkan secara efektif. Dengan memanfaatkan sumber dalam pemerintahan Venezuela, AS berhasil menghindari konflik bersenjata besar-besaran yang dapat memicu reaksi internasional. Pendekatan ini menunjukkan evolusi strategi militer modern yang lebih mengutamakan presisi dan minim korban.
Studi Kasus:
Operasi ini dapat dibandingkan dengan Operasi Neptune Spear pada tahun 2011, yang berhasil menewaskan Osama bin Laden. Kedua operasi ini memiliki kesamaan dalam hal perencanaan yang matang, penggunaan intelijen dalam negeri, dan keterlibatan pasukan khusus. Namun, operasi penangkapan Maduro lebih kompleks karena melibatkan penangkapan tokoh politik yang masih menjabat, bukan target teroris.
Infografis:
- Waktu Operasi: 2 jam 20 menit
- Jumlah Pesawat: 150+
- Pasukan yang Terlibat: Delta Force, CIA
- Korban: Tidak ada pasukan AS yang tewas, sedikit luka
- Lokasi: Caracas, Venezuela
- Target: Nicolas Maduro dan Cilia Flores
Intervensi militer AS di Venezuela ini menandai babak baru dalam strategi keamanan internasional, di mana kekuatan militer digunakan secara selektif dan presisi untuk mencapai tujuan politik tanpa memicu konflik berskala besar. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko korban, tetapi juga meminimalkan dampak politik dan diplomatik yang dapat timbul dari intervensi militer konvensional. Dengan terus mengembangkan kemampuan intelijen dan pasukan khusus, AS menunjukkan komitmennya untuk melindungi kepentingan nasionalnya di seluruh dunia dengan cara yang lebih efisien dan efektif.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
π Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
π Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.