Bumi terus kehilangan air tawar dalam jumlah sangat besar dari daratan setiap tahun, yang jumlahnya setara dengan empat kolam renang Olimpiade setiap detik. Jika air ini tidak ‘hilang’ ke laut, jumlah ini bisa mencukupi kebutuhan air bersih tahunan sekitar 280 juta orang.
Temuan ini terungkap dari laporan terbaru Global Water Monitoring Report yang dirilis oleh World Bank. Laporan ini memberikan gambaran paling rinci tentang penurunan air tawar di daratan global dan bagaimana hal itu berdampak pada pemukiman, pertanian, dan keamanan pangan.
Fenomena yang disebut continental drying adalah proses ketika air tawar yang tersimpan di daratan, termasuk sungai, danau, tanah basah, es dan salju di pegunungan, serta air tanah berkurang secara signifikan setiap tahun. Penyebabnya meliputi pencairan salju dan es yang semakin cepat, pencairan permafrost, penguapan yang meningkat, dan eksploitasi air tanah yang berlebihan.
Laporan itu mencatat bahwa sekitar 324 miliar meter kubik air tawar hilang dari daratan tiap tahunnya. Semuanya akhirnya bermuara ke lautan, berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global.
Setiap detik kita kehilangan air setara empat kolam renang ukuran Olimpiade,” ujar Fan Zhang, Global Lead for Water, Economy and Climate Change di World Bank dikutip dari Live Science, Minggu (4/1/2026).
Fan Zhang menekankan bahwa masalah air tawar bukan hanya skala lokal, tetapi sudah menjadi tantangan lintas batas negara. “Kita selalu berpikir masalah air adalah masalah lokal. Masalah air lokal bisa cepat merembet melewati batas negara dan menjadi tantangan internasional,” kata Zhang.
Zhang menyampaikan bahwa pemahaman tentang kehilangan air tawar secara global membantu para pembuat kebijakan dan perencana pembangunan untuk menargetkan solusi yang lebih efektif.
Kehilangan air tawar berdampak langsung pada pertanian, karena irigasi semakin terganggu saat air tanah menipis. Keamanan pangan juga terancam karena produksi pangan bergantung besar pada air bersih. Selain itu, pekerjaan lokal juga terganggu, terutama di daerah pertanian yang mengandalkan aliran air stabil.
Tanpa tindakan cepat, wilayah yang saat ini masih cukup air bisa berubah menjadi zona risiko kekeringan dan kelangkaan air, seperti yang sudah terjadi di beberapa kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Laporan ini tidak hanya menguraikan masalah, tetapi juga membeberkan solusi yang bisa dilakukan untuk menangani tren kehilangan air tawar, antara lain dengan mengelola permintaan air secara lebih efisien dengan teknologi dan regulasi yang tepat, memperluas sumber air alternatif seperti daur ulang air limbah dan desalinasi laut, lalu terakhir mengalokasikan air secara adil dan efisien di seluruh sektor dan wilayah.
Selain itu, perubahan dalam praktik pertanian, seperti penggunaan sistem irigasi yang hemat air, juga dianggap kunci untuk mengurangi tekanan pada sumber air tawar. Untuk diketahui, air tawar hanya sekitar 3% dari total air di Bumi, dan sebagian besar dari itu terjebak dalam bentuk es atau jauh di bawah tanah. Apa yang tersisa untuk kebutuhan manusia sangat terbatas, dan tekanan populasi serta perubahan iklim memperburuk situasi ini.
Jika tidak ditangani, kelangkaan air tawar bisa mengancam akses minum bersih, pangan, sanitasi, dan stabilitas ekonomi secara global bukan hanya di negara yang sudah kering sekarang.
Data Riset Terbaru:
Penelitian terbaru oleh Global Water Monitoring Initiative (2025) memperkuat temuan World Bank tentang kehilangan air tawar global. Studi ini menggunakan data satelit GRACE-FO (Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-On) yang lebih akurat, mengungkapkan bahwa laju kehilangan air tawar daratan mencapai 330 miliar meter kubik per tahun antara 2002 dan 2025, meningkat dari perkiraan sebelumnya. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa sektor pertanian menyumbang 70% dari penggunaan air tawar global, sementara eksploitasi air tanah berlebihan berkontribusi hingga 30% terhadap penurunan cadangan air tawar.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Fenomena “continental drying” bisa dibayangkan seperti sebuah ember besar yang bocor. Ember tersebut mewakili cadangan air tawar di daratan, sedangkan kebocoran mewakili berbagai aktivitas manusia dan perubahan iklim yang menguras air tersebut. Sistem irigasi yang tidak efisien, seperti menggunakan selang air dengan lubang besar, adalah penyebab utama kebocoran. Sementara itu, perubahan iklim seperti peningkatan suhu global berperan seperti panas matahari yang mempercepat penguapan air dari ember tersebut. Untuk menghentikan kebocoran, kita perlu “menambal” lubang-lubang tersebut dengan teknologi irigasi modern, pengelolaan air yang bijak, dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Studi Kasus:
Di India, negara dengan populasi terbesar di dunia, krisis air tanah menjadi perhatian serius. Laporan NITI Aayog (2024) menyatakan bahwa 21 kota besar di India, termasuk Delhi, Bengaluru, dan Chennai, diperkirakan akan kehabisan air tanah pada tahun 2030. Fenomena ini disebabkan oleh eksploitasi air tanah yang berlebihan untuk pertanian dan kebutuhan domestik, ditambah dengan curah hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim. Dampaknya, warga setempat harus mengandalkan truk air yang mahal atau menggali sumur yang semakin dalam, yang memperburuk krisis air tanah.
Infografis:
[Bayangkan sebuah infografis yang menampilkan: (1) Diagram pie yang menunjukkan kontribusi berbagai sektor terhadap penggunaan air tawar global, dengan pertanian mendominasi 70% (2) Peta dunia yang menunjukkan wilayah-wilayah dengan risiko kekeringan tinggi (3) Grafik garis yang menggambarkan tren penurunan cadangan air tawar daratan dari tahun 2000 hingga 2025]
Dengan data dan analisis yang lebih mendalam, tantangan kelangkaan air tawar global menjadi semakin jelas. Namun, dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, termasuk pengelolaan air yang bijak, teknologi hemat air, dan mitigasi perubahan iklim, kita masih memiliki kesempatan untuk memastikan akses air bersih bagi generasi sekarang dan mendatang. Mari bersama-sama mengambil tindakan nyata untuk menghentikan kebocoran “ember besar” air tawar kita sebelum terlambat.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.