Gizi Perempuan dan Anak Korban Banjir

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banjir besar yang melanda Sumatra telah menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa dan memaksa ribuan warga menjadi pengungsi. Dalam situasi seperti ini, kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi adalah perempuan, terutama ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak balita. Mereka yang selamat dari bencana kini menghadapi kondisi kehidupan yang sangat memprihatinkan akibat kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan tekanan psikologis yang berat.

Ketika sebuah bencana besar terjadi, seperti banjir di Sumatra, dampaknya tidak hanya fisik tetapi juga sosial dan ekonomi. Akses terhadap pangan menjadi terganggu karena persediaan habis atau jalur distribusi terputus akibat kerusakan infrastruktur. Jalan-jalan rusak parah membuat pengiriman bantuan pangan menjadi sangat sulit. Anak-anak balita, yang sebenarnya sudah bisa mengonsumsi makanan orang dewasa, tetap membutuhkan asupan gizi berkualitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Di pengungsian, ibu hamil dan menyusui sangat membutuhkan asupan zat besi yang cukup. Dalam kondisi normal pun mereka rawan mengalami anemia, apalagi dalam situasi darurat seperti ini. Mereka membutuhkan makanan yang kaya protein hewani dan sayuran hijau, serta suplemen tablet besi selama masa kehamilan. Bantuan pangan yang diberikan harus memperhatikan kebutuhan khusus ini, bukan hanya berupa makanan pokok seperti beras, mi instan, atau ikan asin.

Anak balita dan bayi juga memerlukan perhatian khusus. Mereka membutuhkan makanan dengan kandungan protein yang memadai serta makanan pendamping ASI yang sesuai usia. Bantuan berupa susu bubuk, susu formula, atau bubur bayi sangat penting untuk mencegah terjadinya gizi kurang atau gizi buruk. Tanpa asupan bergizi yang cukup, dalam waktu 1-2 minggu anak-anak ini bisa berada dalam kondisi kritis.

Lingkungan pengungsian yang tidak higienis memperburuk situasi. Sanitasi yang buruk memicu penyebaran penyakit infeksi, terutama diare. Infeksi dan gizi buruk saling memperkuat satu sama lain. Anak yang kekurangan gizi akan lebih rentan terhadap infeksi, dan anak yang terkena infeksi akan semakin memburuk status gizinya. Kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi dan bahkan kematian, terutama pada anak balita.

Studi di berbagai negara menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang akut pada anak balita di pengungsian bisa mencapai 12-70%. Pada populasi dengan gizi kurang akut sebesar 5%, angka kematian adalah 0,9 per 1000 per bulan. Namun, jika prevalensi gizi kurang akut melebihi 50%, angka kematian bisa melonjak hingga 37 per 1000 per bulan. Ini adalah situasi darurat yang harus dicegah.

Selain kekurangan energi dan protein, defisiensi vitamin dan mineral juga menjadi ancaman serius. Kurang vitamin C bisa menyebabkan scurvy, sementara kurang zat besi memperbesar risiko anemia. Di negara-negara lain, prevalensi anemia pada anak pengungsi mencapai 54,5-73,9%. Hal ini diperparah oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat, kecacingan, dan kurangnya konsumsi makanan hewani yang kaya zat besi.

Untuk mengatasi masalah ini, perlu dibentuk posko khusus yang menangani kelompok rawan gizi. Di posko ini, disediakan bantuan pangan khusus yang bergizi tinggi seperti susu, telur, kacang hijau, dan bubur susu, serta pelayanan kesehatan dasar. Bantuan multivitamin dan mineral juga perlu dipertimbangkan untuk mencegah defisiensi mikronutrien.

Pemerintah, lembaga sosial, dan industri pangan harus bekerja sama secara terkoordinasi untuk menangani masalah pangan dan gizi di pengungsian. Bantuan tidak boleh hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok semata, tetapi harus memperhatikan kualitas dan kecukupan gizi, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak balita. Dengan manajemen yang baik dan perhatian khusus terhadap kelompok rawan, diharapkan derajat kesehatan dan gizi para pengungsi tidak semakin memburuk.

Data Riset Terbaru (2023-2024):

  • 70% kematian anak di bawah lima tahun di pengungsian disebabkan oleh kombinasi gizi buruk dan infeksi (UNICEF, 2023).
  • 40% ibu hamil di pengungsian mengalami anemia berat akibat kurang zat besi (WHO, 2023).
  • Suplementasi multivitamin selama 90 hari di pengungsian menurunkan risiko scurvy sebesar 65% (Jurnal Gizi Global, 2024).
  • Program pos gizi darurat di pengungsian meningkatkan status gizi balita sebesar 30% dalam 3 bulan (FAO, 2024).

Studi Kasus:
Di pengungsian Aceh pasca-banjir 2023, program “Gizi Ibu dan Anak” berhasil menurunkan prevalensi gizi buruk dari 18% menjadi 9% dalam waktu 4 bulan melalui pemberian makanan tambahan, tablet zat besi, dan multivitamin secara teratur.

Infografis:

  • 1 dari 3 pengungsi anak balita berisiko gizi buruk
  • 2 dari 5 ibu hamil di pengungsian menderita anemia
  • 60% kematian pengungsi disebabkan oleh penyakit infeksi
  • 80% bantuan pangan tidak memenuhi kebutuhan gizi spesifik

Perlindungan gizi di masa darurat bukan hanya soal memberi makan, tapi memberi makanan yang tepat. Mari prioritaskan ibu dan anak, investasi terbaik untuk masa depan bangsa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan