Demo besar-besaran mengguncang Iran karena kemarahan masyarakat atas tingginya biaya hidup dan terjun bebasnya nilai mata uang Rial yang berpengaruh ke berbagai sektor kehidupan. Aksi unjuk rasa yang awalnya dimulai oleh para pedagang di Pasar Besar Teheran, kini menyebar ke 17 dari 31 provinsi di seluruh negeri, termasuk kota-kota besar seperti Lorestan, Isfahan, Qom, dan Zanjan. Bentrokan antara massa dan aparat keamanan pun memanas, bahkan menewaskan sejumlah orang.
Menurut Deutsche Welle (DW), kondisi ekonomi Iran sedang terpuruk akibat inflasi tinggi dan sanksi internasional terkait program nuklir pemerintah. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat inflasi di Iran mencapai 32,5% pada 2024, bahkan diprediksi tembus 42,4% pada 2025 dan tetap di atas 40% hingga 2026. Harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng meroket, sementara mata uang Rial jatuh ke posisi terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pasokan bahan pangan karena kesulitan mengimpor barang-barang pokok dengan mata uang asing.
Mantan Wakil Presiden Iran, Hossein Marashi, menyatakan bahwa perekonomian Iran telah disandera oleh isu nuklir selama dua dekade terakhir. Akibat sanksi internasional, Iran terisolasi dari dunia dan pertumbuhan ekonominya stagnan hanya sekitar 1% selama dua dekade. Krisis ini memicu kemarahan rakyat, terutama kalangan muda yang merasa masa depan mereka suram. Demonstrasi yang awalnya fokus pada isu ekonomi, kini berubah menjadi protes politik terhadap rezim pemerintahan.
Sementara itu, pemerintah Iran menanggapi aksi protes dengan kekerasan, termasuk penangkapan massal dan penggunaan gas air mata, peluru karet, serta senjata api. Media pemerintah melaporkan tiga orang tewas dalam bentrokan di Lordegan, dan korban jiwa lainnya terjadi di Azna dan Kouhdasht. Namun, kelompok-kelompok HAM seperti HRANA menyatakan jumlah korban jauh lebih tinggi. Pemerintah juga membatasi akses internet dan media sosial untuk mencegah penyebaran informasi tentang protes.
Dalam konteks sejarah, aksi demo ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, Iran pernah diguncang protes besar pada 2019 dan 2022, yang juga dipicu oleh krisis ekonomi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Namun, gelombang protes kali ini menunjukkan eskalasi yang lebih luas dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa, pedagang, dan pekerja. Banyak aktivis dan pengamat menilai bahwa krisis ekonomi ini memperdalam kepercayaan publik terhadap ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola negara.
Studi Kasus: Pasar Besar Teheran
Pasar Besar Teheran, yang biasanya ramai dikunjungi pembeli, kini sepi. Para pedagang menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap krisis ekonomi. Salah satu pedagang, Ahmad, mengungkapkan bahwa harga barang-barang yang ia jual naik hingga 50% dalam waktu singkat, sementara daya beli masyarakat menurun drastis. “Kami tidak bisa lagi menyediakan barang dengan harga terjangkau, dan pembeli pun enggan berbelanja,” ujarnya.
Infografis: Data Ekonomi Iran
- Inflasi 2024: 32,5%
- Prediksi inflasi 2025: 42,4%
- Pertumbuhan ekonomi (2000-2025): 1%
- Nilai Rial terhadap Dolar AS: Anjlok ke titik terendah sepanjang masa
- Provinsi yang terdampak protes: 17 dari 31 provinsi
Krisis ekonomi yang melanda Iran bukan sekadar masalah moneter, melainkan cerminan dari ketidakstabilan politik dan sosial yang mendalam. Rakyat Iran, terutama generasi muda, menuntut perubahan nyata dan keadilan ekonomi. Jika pemerintah terus mengandalkan kekerasan dan represi, maka ketegangan ini berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Saatnya bagi para pemimpin Iran untuk mendengarkan suara rakyat dan mengambil langkah-langkah konkret guna memulihkan kepercayaan dan stabilitas di negeri ini.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.