Demo Besar-besaran Mengguncang Negara Kaya Minyak, Ini 5 Fakta Penting yang Perlu Anda Ketahui

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Teheran diguncang gelombang protes besar-besaran menyusul krisis ekonomi yang makin memburuk. Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu mahalnya biaya hidup akibat anjloknya nilai mata uang rial berubah menjadi bentrokan berdarah dengan aparat keamanan. Demonstrasi yang dimulai dari kalangan pedagang dan pemilik toko kini meluas ke berbagai elemen masyarakat termasuk mahasiswa dan warga umum di 17 dari 31 provinsi.

1. Krisis Ekonomi Memuncak
Iran menghadapi tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional yang membatasi akses keuangan global. Rial Iran anjlok hingga 1,42 juta per dolar AS, turun 56% hanya dalam enam bulan. Inflasi melambung 72% dibanding tahun lalu, membuat harga kebutuhan pokok seperti produk susu naik enam kali lipat dan barang lainnya lebih dari 10 kali lipat. Ketergantungan pada impor memperparah kondisi ini.

2. Aksi Demo Meluas
Aksi protes dimulai saat pemilik toko di Pasar Besar Teheran menutup usahanya pada 28 Desember 2025. Dalam hitungan hari, gelombang demonstrasi menyebar ke 17 provinsi. Bentrokan terjadi di beberapa kota, menyebabkan korban jiwa. Fars melaporkan tiga orang tewas di Lordegan, tiga lainnya di Azna, dan satu di Kouhdasht. Demonstran melempar batu ke gedung pemerintahan, masjid, dan bank.

3. Respon Pemerintah yang Tertahan
Pemerintah Iran tampak menahan diri dari tindakan keras terbuka. Sebagai respons, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk gubernur baru bank sentral, Abdolnaser Hemmati, yang berjanji memulihkan stabilitas ekonomi. Pezeshkian menegaskan komitmen pemerintah memberantas korupsi dan pencarian rente, menyebut perlindungan mata pencaharian rakyat sebagai “garis merah”.

4. Sejarah Demo Sebelumnya
Iran pernah mengalami protes besar-besaran pada 2022 menyusul kematian Mahsa Amini di tahanan. Demonstrasi saat itu meluas ke seluruh negeri dengan aksi pembakaran hijab sebagai simbol protes. Pemerintah merespons dengan penangkapan massal, penggunaan gas air mata, dan penembakan peluru tajam yang menyebabkan ratusan kematian.

5. Ketegangan Regional
Tegangan dengan AS dan Israel masih tinggi. Pada Juni 2025, Israel dan AS melancarkan serangan 12 hari terhadap Iran. Spekulasi serangan lanjutan terus mengemuka, termasuk kemungkinan serangan ke Lebanon melalui Hizbullah. Pezeshkian memperingatkan bahwa Iran akan membalas setiap agresi dengan keras.

Protes yang dimulai dari isu ekonomi kini berubah menjadi tuntutan politik lebih luas. Pemerintah menghadapi tantangan besar menyeimbangkan tuntutan rakyat, tekanan eksternal, dan stabilitas internal. Krisis ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi Iran terhadap tekanan internasional dan bagaimana ketidakpuasan ekonomi bisa memicu gejolak politik yang lebih luas.

Pemerintah harus segera mengambil langkah nyata mengatasi inflasi dan krisis mata uang. Tanpa solusi konkret, protes bisa terus meluas dan mengancam stabilitas negara. Di tengah ketegangan regional, Iran juga harus waspada terhadap ancaman eksternal yang bisa memanfaatkan kerusuhan internal. Kesempatan bagi pemerintah untuk membuktikan komitmennya terhadap rakyat sedang diuji.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan