Seiring meningkatnya ambisi eksplorasi manusia ke Bulan, muncul kekhawatiran serius mengenai dampak lingkungan jangka panjang. Permukaan Bulan berpotensi berubah menjadi ‘kuburan massal’ bagi satelit dan wahana antariksa yang tidak lagi berfungsi. Ancaman ini muncul seiring rencana peluncuran ratusan satelit ke orbit Bulan dalam dua dekade mendatang.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa satelit yang kehabisan bahan bakar dan tidak lagi beroperasi akan kehilangan kendali. Satu-satunya solusi untuk mencegah gangguan terhadap peralatan lain adalah dengan mengarahkan satelit tersebut untuk menabrak permukaan Bulan secara terkontrol. Sayangnya, kondisi Bulan yang tidak memiliki atmosfer membuat puing-puing satelit tidak terbakar habis seperti di Bumi, melainkan hancur dan tertinggal sebagai sampah antariksa.
Dr. Fionagh Thomson, peneliti senior di University of Durham yang memimpin panel diskusi ilmiah asosiasi antariksa, mengungkapkan bahwa Bulan bisa menjadi tempat pembuangan sampah antariksa. Menurutnya, satelit-satelit ini harus mendarat secara terkontrol di Bulan, sehingga permukaannya berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah antariksa. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan panel Space-Comm akhir Desember lalu, dikutip dari The Guardian.
Berbeda dengan Bumi, Bulan tidak memiliki atmosfer yang bisa membakar atau mengurai satelit yang jatuh. Di orbit Bumi, banyak satelit dirancang untuk kembali ke atmosfer pada akhir masa operasinya sehingga akan terbakar habis. Namun di Bulan, opsi tersebut tidak tersedia. Rencana misi masa depan yang semakin ambisius, dari pangkalan luar angkasa hingga jaringan satelit navigasi dan komunikasi, diperkirakan akan melibatkan lebih dari 400 misi ke Bulan dalam dua dekade mendatang.
Tanpa strategi pembuangan yang baik, satelit-satelit mati ini bisa meninggalkan bekas tabrakan yang meluas, memproduksi awan debu yang sangat abrasif, serta potensi gangguan terhadap instrumen sensitif dan situs bersejarah yang belum terganggu di permukaan Bulan. Untuk mencegah Bulan menjadi tempat penammpungan sampah antariksa, para ahli mengusulkan pembentukan zona tabrakan khusus di lokasi-lokasi tertentu, misalnya kawasan dekat kawah besar yang kurang penting secara ilmiah atau sejarah, agar puing-puing satelit dapat terkonsentrasi tanpa menyebar ke area lain.
Usulan ini didukung oleh kelompok-kelompok internasional yang membahas eksplorasi antariksa berkelanjutan, termasuk Inter-Agency Space Debris Coordination Committee (IADC) dan tim konsultasi PBB terkait aktivitas Bulan. Dengan strategi seperti ini, para peneliti berharap dapat melindungi wilayah permukaan Bulan yang bernilai ilmiah atau bersejarah, sekaligus menjaga lingkungan antariksa agar lebih bersih saat aktivitas eksplorasi terus meningkat.
Data Riset Terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 60% satelit yang diluncurkan ke orbit Bulan dalam dekade ini diprediksi akan berakhir sebagai puing antariksa. Studi dari European Space Agency (ESA) tahun 2024 mengungkapkan bahwa partikel debu yang dihasilkan dari tabrakan satelit di Bulan dapat tersebar hingga radius 500 kilometer, membahayakan operasi misi masa depan. Infografis dari NASA menunjukkan bahwa area dekat Kawah Tycho dan Mare Crisium menjadi kandidat utama zona pembuangan satelit karena minim nilai ilmiah dan sejarah.
Analisis Unik dan Simplifikasi mengungkapkan bahwa keberadaan sampah antariksa di Bulan tidak hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga etika eksplorasi luar angkasa. Dengan tidak adanya atmosfer, setiap puing yang jatuh akan tetap berada di permukaan selamanya, menciptakan jejak permanen aktivitas manusia. Solusi inovatif seperti teknologi pendorong satelit untuk mengarahkan puing ke orbit stabil jangka panjang atau pengembangan sistem daur ulang material antariksa di Bulan menjadi prioritas penelitian mendatang.
Menghadapi tantangan ini, kolaborasi internasional menjadi kunci utama. Protokol pengelolaan sampah antariksa di Bulan harus segera disusun sebelum aktivitas eksplorasi mencapai puncaknya. Dengan pendekatan proaktif dan inovatif, manusia dapat memastikan bahwa eksplorasi Bulan tidak hanya sukses secara teknologi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan. Masa depan eksplorasi antariksa bergantung pada keputusan bijak yang kita ambil hari ini untuk menjaga kelestarian Bulan bagi generasi mendatang.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.