Domba Garut Masih Jadi yang Paling Tinggi Nilai Jualnya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Domba Garut, salah satu ikon ternak unggulan asal Kabupaten Garut, terus menunjukkan eksistensinya di kancah nasional. Binatang ini tidak hanya populer sebagai hewan ternak pedaging, tetapi juga kerap menjadi bintang dalam berbagai ajang adu ketangkasan dan lomba patok yang menarik minat masyarakat luas.

Dibandingkan jenis ternak lainnya, domba Garut masih memegang predikat sebagai ternak dengan nilai jual tertinggi. Fakta ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Garut, Beni Yoga, yang menegaskan keunggulan komparatif dan kompetitif domba Garut di tengah persaingan peternakan saat ini.

Pada tahun 2025, Diskanak Garut menerima suntikan semangat dari program Icare berupa bantuan sebanyak 600 ekor domba. Bantuan ini diberikan secara bertahap dan merupakan realisasi dari usulan yang telah diajukan sejak dua hingga tiga tahun sebelumnya oleh Beni Yoga sendiri. Program ini bukan sekadar bantuan, melainkan bagian dari upaya strategis untuk melestarikan sumber daya genetik domba Garut sekaligus memperbanyak populasinya.

Keunggulan domba Garut tidak hanya terletak pada harga jualnya yang tinggi, tetapi juga pada produktivitasnya. Seekor domba Garut mampu melahirkan 2-3 ekor anak dalam satu kali melahirkan, dan bisa beranak hingga tiga kali dalam dua tahun. Ini menjadikan domba Garut sebagai pilihan utama para peternak yang ingin mengembangkan usaha ternaknya.

Pemerintah daerah, melalui Diskanak, berkomitmen penuh untuk terus mendukung pengembangan domba Garut. Dukungan ini bertujuan ganda: pertama, melestarikan sumber daya genetik domba Garut yang unik dan berkualitas tinggi; kedua, meningkatkan populasi domba Garut agar semakin luas tersebar dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) tahun 2025 menunjukkan bahwa domba Garut memiliki kandungan protein daging tertinggi di antara domba lokal lainnya, mencapai 22,5%. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup anak domba Garut mencapai 92%, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 85%. Riset juga mengungkap bahwa domba Garut memiliki daya tahan terhadap penyakit yang lebih baik dibandingkan domba jenis lain, membuatnya cocok dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Domba Garut bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari identitas budaya dan ekonomi Kabupaten Garut. Keunggulannya yang multidimensional—dari segi genetik, produktivitas, hingga nilai ekonomi—menjadikannya aset strategis yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, domba Garut berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Studi Kasus:
Di Desa Cihaurbeuti, seorang peternak bernama Asep Suryana berhasil mengembangkan usaha ternak domba Garut dari 10 ekor menjadi 150 ekor dalam waktu 4 tahun. Dengan memanfaatkan program bantuan pemerintah dan menerapkan manajemen ternak modern, ia mampu meningkatkan pendapatan keluarganya hingga 300%. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi peternak lain di sekitarnya.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Populasi domba Garut di Kabupaten Garut: 300.000 ekor (2025)
  • Nilai jual rata-rata per ekor: Rp 15-20 juta
  • Tingkat kelahiran: 2-3 ekor per kelahiran
  • Frekuensi melahirkan: 3 kali dalam 2 tahun
  • Tingkat kelangsungan hidup anak domba: 92%
  • Kandungan protein daging: 22,5%

Domba Garut adalah bukti nyata bahwa kearifan lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Dengan potensi genetik unggul dan dukungan yang tepat, domba Garut tidak hanya akan mengangkat derajat peternak lokal, tetapi juga bisa menjadi ikon peternakan Indonesia di kancah internasional. Mari bersama lestarikan dan kembangkan domba Garut, warisan unggul dari tanah Pasundan yang siap mengukir prestasi di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan