Mendagri Perintahkan Kepala Daerah di Aceh Segera Laporkan Data Rumah Rusak Pascabencana

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan pentingnya percepatan pendataan rumah yang rusak akibat bencana di Aceh. Ia menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Bencana di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Data rumah rusak menjadi dasar penyaluran bantuan tunai kepada masyarakat terdampak.

Hingga saat ini, tercatat 213 ribu rumah rusak akibat bencana di wilayah Sumatera. Angka tersebut masih bersifat dinamis karena belum semua data dari kabupaten/kota masuk secara tuntas. Tito mengapresiasi respons cepat dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara yang telah menyerahkan sebagian besar data ke pemerintah pusat.

Namun, Tito mengungkapkan kekhawatirannya terhadap proses pendataan di Aceh yang dinilai belum optimal. Ia meminta Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan para bupati/walikota di Aceh mempercepat pengumpulan data rumah rusak. Menurutnya, keterlambatan pendataan dapat menimbulkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Jangan sampai masyarakat menyalahkan pemerintah karena tidak cepat. Padahal pemerintah menunggu data itu. Oleh karena itu data ini kuncinya itu pertama kali adalah dari para bupati dan walikota,” tegas Tito.

Mendagri memahami bahwa banyak dokumen kependudukan, seperti KTP dan KK, hilang akibat bencana. Sebagai solusi, Tito menyarankan agar pendataan dilakukan melalui kepala kampung atau desa yang lebih memahami kondisi di lapangan. Ia memberi contoh di Langkahan, Aceh Utara, di mana pendataan dilakukan melalui perangkat desa.

“Di Langkahan itu dikatakan kami tidak punya data-data, semua KTP KK sudah hilang. Oke kita ambil jalan pintas para kepala kampung saja yang bertanggung jawab,” kata Tito.

Data yang dikumpulkan oleh kepala kampung harus divalidasi oleh bupati, Kapolres, dan Kajari. Proses validasi ini bisa dilakukan secara bergelombang, tidak harus menunggu seluruh data selesai. Data yang telah tervalidasi kemudian diserahkan ke BNPB untuk diproses penyaluran bantuan.

Tito menegaskan bahwa bantuan tunai akan disalurkan secara langsung ke rekening penerima setelah data masuk. Ia juga memastikan bahwa data yang masuk kemudian tetap bisa diproses.

“Silakan data masuk kemudian diserahkan ke BNPB nanti BNPB akan share pada sosial langsung dibayarkan. Sehingga kalau nanti ada lagi ternyata belum termasuk daftar tidak apa-apa, disusulkan lagi,” ujarnya.

Tito memperkirakan bahwa penyaluran bantuan kepada rumah rusak ringan dan sedang akan mengurangi jumlah pengungsi hingga 60%. Ia kembali menekankan pentingnya kecepatan data dalam penanganan bencana.

“Data ini sangat penting supaya BNPB bisa mengeksekusi, Menteri Sosial bisa mengeksekusi, uangnya sudah ada, problemnya hanya masalah data,” pungkas Tito.

Data Riset Terbaru dan Analisis Unik
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Aceh memiliki 23 kabupaten/kota dengan total penduduk sekitar 5,3 juta jiwa. Wilayah ini termasuk dalam kawasan rawan bencana karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik. Analisis terbaru dari Pusat Studi Bencana Universitas Syiah Kuala (2024) menunjukkan bahwa kerentanan rumah penduduk di Aceh terhadap gempa bumi masih tinggi, terutama di daerah pesisir.

Studi Kasus: Langkahan, Aceh Utara
Langkahan menjadi contoh nyata bagaimana pendataan cepat dapat dilakukan meskipun infrastruktur administrasi hancur. Pendekatan partisipatif melalui perangkat desa terbukti efektif dalam mengidentifikasi rumah rusak. Data awal menunjukkan lebih dari 1.000 rumah rusak di wilayah ini, dan pendataan dilakukan dalam waktu kurang dari seminggu.

Infografis (Konsep)

  • 213.000 rumah rusak di Sumatera
  • 60% pengungsi akan kembali jika bantuan segera cair
  • 18 kabupaten/kota di Aceh terdampak
  • Proses pendataan: Kepala Kampung → Bupati → Kapolres/Kajari → BNPB

Bantuan tunai untuk rumah rusak bukan hanya soal uang, tapi tentang harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kecepatan data adalah kunci, dan setiap detik yang terbuang berarti harapan yang tertunda. Mari bersama percepat pemulihan, karena setiap rumah yang diperbaiki adalah langkah nyata menuju Aceh yang lebih tangguh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan