Pemilik Lapak Akan Tanggung Jawab Perbaikan Rumah yang Rusak Tertimpa Potongan Pesawat di Bogor

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemilik lapak penampungan bangkai pesawat akan menanggung seluruh biaya perbaikan rumah warga yang rusak akibat tertimpa serpihan pesawat saat angin puting beliung menerjang Desa Pondok Udik, Bogor. Kepala Desa Pondok Udik, M Sutisna, menjelaskan bahwa proses evakuasi potongan pesawat terus dilakukan sejak malam hari sebelumnya dan diharapkan selesai pada hari ini.

“Semua kerusakan ditanggung oleh pihak gudang pesawat tersebut, termasuk pembiayaan perbaikan rumah warga yang terdampak,” ujar Sutisna saat ditemui di lokasi, Selasa (30/12/2025). Ia menambahkan bahwa serpihan pesawat tersebut terangkat hingga ketinggian 25 meter oleh pusaran angin puting beliung sebelum akhirnya jatuh menimpa atap empat rumah warga di dua lokasi berbeda, yakni RT 01/04 dan RT 02/05.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat total 55 rumah rusak akibat puting beliung yang melanda wilayah Kemang. Dari jumlah tersebut, 10 rumah mengalami kerusakan sedang dan 14 rumah rusak ringan di Desa Pondok Udik, termasuk tiga rumah yang tertimpa bagian bangkai pesawat. Sementara di Desa Jampang, terdapat 12 rumah rusak ringan.

“Untuk sementara tidak ada korban jiwa atau luka-luka, namun 23 warga harus mengungsi ke rumah kerabat karena rumah mereka tidak layak huni,” jelas Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani.

Data Riset Terbaru menunjukkan bahwa frekuensi angin puting beliung di wilayah Jawa Barat mengalami peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir, terutama di daerah yang mengalami perubahan tata guna lahan secara masif. Studi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan bahwa pembangunan gudang atau bangunan tinggi di area terbuka dapat memperbesar risiko terjadinya pusaran angin, terutama saat musim peralihan cuaca.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Fenomena puting beliung di Bogor kali ini menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas manusia, seperti penimbunan material berat di area terbuka, dapat memperparah dampak bencana alam. Potongan bangkai pesawat yang seharusnya diamankan dengan baik justru menjadi proyektil berbahaya saat angin kencang menerpa. Ini menunjukkan pentingnya regulasi ketat terhadap penyimpanan material berat di area publik.

Studi Kasus: Kasus di Desa Pondok Udik ini mengingatkan pada kejadian serupa di Bekasi tahun 2023, di mana tumpukan besi rongsokan di gudang bengkel menjadi sumber kerusakan saat angin kencang menerjang. Infografis dari BMKG menunjukkan pola serupa: area dengan gudang atau bangunan tinggi di tengah lahan terbuka cenderung menjadi pusat pusaran angin saat tekanan udara tidak stabil.

Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah dan pemilik usaha untuk lebih memperhatikan keamanan penyimpanan material berat. Selain itu, masyarakat perlu dilatih dalam penanganan bencana alam melalui simulasi dan sosialisasi rutin. Dengan kesiapan yang baik, dampak kerugian material dan risiko terhadap keselamatan jiwa dapat diminimalisir secara signifikan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan