BFN 2025 Jadi Momentum Penguatan Kolaborasi Industri Fintech

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Direktur Utama AdaKami, Bernardino Moningka Vega menegaskan bahwa pertumbuhan industri pinjaman daring (pindar) menjadi peluang besar untuk memperluas akses layanan keuangan digital yang aman, terjangkau, dan bertanggung jawab. Pernyataan ini disampaikan dalam Bulan Fintech Nasional Festival yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Jakarta. Data menunjukkan bahwa industri pindar mencatat pertumbuhan penyaluran sebesar 22,16% year-on-year (YoY) pada September 2025, dengan total penyaluran mencapai Rp 90,99 triliun. Angka ini menggambarkan bahwa pindar semakin menjadi andalan masyarakat sebagai alternatif utama di luar sistem perbankan tradisional.

Dalam paparannya, Bernardino menekankan peran penting fintech lending dalam memperluas akses kredit inklusif. Ia menyatakan bahwa AdaKami fokus pada penguatan teknologi dan tata kelola untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran pendanaan yang bertanggung jawab. Menurutnya, fintech lending hadir untuk menjembatani kebutuhan akses keuangan masyarakat secara lebih cepat, aman, dan terukur. “Visi kami adalah menjadi perusahaan fintech lending dengan teknologi terdepan di Indonesia, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pendanaan yang bertanggung jawab,” ujar Bernardino.

Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan industri hanya dapat dicapai melalui kolaborasi multidimensi yang menggabungkan data, manajemen risiko, dan integrasi teknologi. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menjaga kesehatan portofolio, memitigasi risiko, sekaligus memperluas jangkauan kredit yang layak dan inklusif bagi masyarakat. Untuk mewujudkan model kredit yang berkelanjutan, Bernardino mengusulkan empat pilar utama yang harus diperkuat bersama oleh industri dan regulator.

Pilar pertama adalah berbagi data sebagai fondasi utama. Kolaborasi data antara platform pindar, biro kredit, dan penyedia data alternatif memungkinkan terciptanya riwayat kredit yang lebih kaya dan akurat. Integrasi data biro kredit dengan data innovative credit scoring memungkinkan pertukaran data secara bertanggung jawab untuk meningkatkan ketepatan underwriting dan menekan potensi gagal bayar. Penggunaan intelijen penipuan bersama dan data perilaku yang dianonimkan juga membantu memperkuat keamanan ekosistem.

Pilar kedua adalah skoring interoperable dan standardisasi penilaian risiko. Adopsi kerangka skoring yang interoperable akan menghasilkan penilaian risiko yang konsisten antar lembaga. Hal ini membantu mengurangi kesalahan dalam penetapan harga, meningkatkan kepercayaan antar pelaku industri, serta membuka peluang pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Pilar ketiga adalah jaminan kredit dan skema berbagi risiko yang terarah. Skema penjaminan atau risk-sharing membantu menutup kerugian tak terduga, khususnya pada segmen dengan risiko tinggi atau kelompok yang belum terlayani sistem keuangan formal. Dengan skema ini, pemberi pinjaman dapat memperluas akses kredit secara bijak tanpa mengorbankan kualitas portofolio.

Pilar keempat adalah platform kolaborasi terintegrasi. Ketiga pilar di atas dapat dioptimalkan melalui platform kolaboratif yang aman dan teregulasi. Ekosistem terintegrasi ini menciptakan simbiosis yang saling memperkuat, di mana lender dapat tumbuh, borrower memperoleh akses yang adil, dan risiko dapat dikelola secara kolektif.

Menutup paparannya, Bernardino menegaskan komitmen AdaKami untuk terus berinovasi dan memperkuat sinergi dengan regulator, industri, serta pemangku kepentingan lain. “Akselerasi keuangan digital harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kolaborasi. Dengan teknologi yang tepat dan tata kelola risiko yang kuat, kita bisa memastikan pertumbuhan fintech lending yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Data Riset Terbaru menunjukkan bahwa adopsi keuangan digital di Indonesia terus meningkat, dengan pertumbuhan pengguna fintech lending yang mencapai 45% pada kuartal III 2025. Studi kasus dari sektor UMKM menunjukkan bahwa akses terhadap pinjaman daring telah membantu 60% pelaku usaha kecil untuk memperluas usahanya. Infografis terkini juga menggambarkan bahwa tingkat literasi keuangan digital di Indonesia telah mencapai 68%, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan akses keuangan digital tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Dengan kolaborasi yang kuat antara industri, regulator, dan masyarakat, transformasi keuangan digital dapat menjadi katalisator pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Mari bersama-sama membangun ekosistem keuangan digital yang aman, adil, dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan