Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tragedi kemanusiaan yang baru saja melanda tiga provinsi di Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, bukan hanya sekadar berita duka biasa, tetapi merupakan sinyal tegas mengenai kegagalan sistemik kita dalam mengantisipasi tanda-tanda alam. Data yang dirilis ke publik sungguh mengejutkan. Lebih dari 800 jiwa melayang sia-sia, ratusan orang masih dalam pencarian, dan lebih dari setengah juta warga harus mengungsi akibat banjir bandang. Ini bukan hanya statistik kematian, melainkan indikator betapa rapuhnya ketahanan kita menghadapi ancaman yang sebenarnya sudah sangat terprediksi.

Kita perlu berhenti sejenak dan melakukan introspeksi radikal, mengapa bangsa ini seolah gagap setiap kali bencana datang? Padahal, narasi bahwa kita hidup di atas Ring of Fire sudah diajarkan sejak bangku sekolah dasar. Namun, pengetahuan geografis itu sepertinya berhenti sebatas hafalan, tidak bertransformasi menjadi tindakan strategis maupun kebijakan tata ruang yang disiplin. Akibatnya, bencana menjadi rutinitas mematikan yang kita terima dengan sikap fatalistik yang berbahaya.

Melihat data kebencanaan nasional, kita sedang menghadapi tren yang sangat mengkhawatirkan dan menuntut respons luar biasa, bukan respons biasa-biasa saja. Hingga 4 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 2.997 kejadian bencana hanya dalam kurun waktu sebelas bulan. Angka ini fluktuatif namun tetap berada dalam koridor yang mengerikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, kita pernah menyentuh angka tertingginya dengan 5.400 kejadian bencana, sebuah rekor kelam yang menunjukkan betapa rentannya ekosistem kita. Memang, pada tahun 2024 sempat terjadi penurunan menjadi 2.107 kejadian, namun lonjakan kembali di tahun 2025 ini membuktikan bahwa faktor pemicu bencana belum tertangani secara fundamental. Mayoritas bencana tersebut didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, yang sangat berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan antropogenik.

Dalam teori manajemen perubahan, sebuah krisis seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pergeseran paradigma. Namun, saya melihat ada kekurangan yang sangat fatal dalam ekosistem pendidikan tinggi kita di Indonesia. Di tengah kepungan ribuan bencana per tahun, belum ada satu pun perguruan tinggi yang secara serius membuka Program Studi Sarjana (S1) khusus Manajemen Kebencanaan atau Disaster Response Studies. Perguruan tinggi kita tampaknya masih terjebak dalam zona nyaman, memproduksi lulusan untuk pasar tenaga kerja konvensional yang justru sedang terdisrupsi oleh teknologi.

Kampus sibuk mencetak ribuan sarjana ekonomi, hukum, dan komunikasi, namun alpa mencetak ahli yang mampu menyelamatkan aset bangsa dari kehancuran akibat bencana. Padahal, pendidikan sejatinya harus relevan dengan konteks di mana ia berdiri. Konsep “Link and Match” yang selama ini didengungkan seharusnya tidak dimaknai secara sempit sebagai penyedia buruh industri semata. Link and Match harus diartikan sebagai kemampuan institusi pendidikan untuk menjawab tantangan eksistensial masyarakat di sekitarnya.

Jika masyarakat hidup di daerah rawan gempa dan banjir, maka universitas wajib melahirkan ilmuwan dan praktisi yang mampu memitigasi risiko tersebut. Saya sering memberikan contoh menarik tentang bagaimana relevansi itu dibangun, salah satunya adalah keberadaan Program Studi Sains Perkopian di Universitas Pat Petulai Bengkulu. Ini adalah contoh strategi niche yang brilian, di mana kampus menyadari bahwa Bengkulu adalah salah satu penghasil kopi terbesar. Mereka tidak mencoba menjadi “menara gading”, melainkan turun ke bumi mengelola potensi lokal dengan pendekatan saintifik dari hulu ke hilir.

Logika yang sama juga diterapkan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang memiliki Program Studi Keris dan Senjata Tradisional. Di mata orang awam yang tidak paham strategi kebudayaan, mungkin jurusan ini terdengar aneh. Namun, bagi Jawa Tengah sebagai pusat kebudayaan Jawa, prodi ini adalah benteng pertahanan intelektual untuk menjaga aset budaya bernilai tinggi agar tidak punah ditelan zaman.

Jika Bengkulu bisa punya prodi kopi karena komoditasnya, dan Solo punya prodi keris karena budayanya, lantas mengapa Indonesia sebagai “Supermarket Bencana” tidak punya Prodi Kebencanaan? Ini adalah pertanyaan retoris yang menampar wajah dunia akademis kita. Kita memiliki laboratorium alam paling lengkap untuk studi bencana, mulai dari vulkanologi, hidrologi, hingga patahan lempeng bumi, namun kita membiarkan ilmu itu tercecer tanpa wadah akademis yang formal.

Urgensi pendirian Program Studi Manajemen Kebencanaan dan Penyelamatan (Disaster Management and Rescue) sudah berada di level kritis. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pelatihan-pelatihan jangka pendek atau sertifikasi instan bagi relawan. Penanganan bencana di masa depan membutuhkan pendekatan multidisiplin yang kompleks, yang menggabungkan sains, teknologi, psikologi, dan manajemen logistik.

Desain kurikulum prodi ini harus dirancang dengan pendekatan outcome-based education yang ketat. Mahasiswa harus menguasai geospasial untuk pemetaan, teknik sipil dasar untuk infrastruktur darurat, manajemen krisis untuk komunikasi publik, hingga paramedik dasar. Mereka adalah calon-calon pemimpin operasi yang mampu berpikir taktis di bawah tekanan ekstrem, sebuah skill set yang tidak dimiliki oleh lulusan manajemen biasa.

Potensi serapan lulusannya pun sangat besar, mengingat Indonesia sedang bergerak menuju standar keselamatan global. Setiap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di lebih dari 500 kabupaten/kota membutuhkan tenaga ahli yang kompeten, bukan sekadar pegawai mutasi. Belum lagi sektor swasta, terutama industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan, yang diwajibkan memiliki standar manajemen risiko bencana yang tinggi.

Lulusan prodi ini nantinya akan mengisi posisi strategis sebagai perancang kebijakan mitigasi, konsultan risiko bencana, hingga manajer operasional tanggap darurat. Profesi ini di masa depan akan sama bergengsinya dengan aktuaris atau konsultan pajak, karena mereka menghitung dan menyelamatkan aset yang paling berharga, nyawa manusia dan keberlangsungan ekonomi.

Kita harus mengubah mindset bahwa penanganan bencana hanyalah tugas “otot” atau kerja kasar di lapangan. Penanganan bencana modern melibatkan analisis Big Data untuk prediksi cuaca, penggunaan drone untuk pemetaan cepat, dan aplikasi Artificial Intelligence untuk simulasi evakuasi. Ini adalah ranah intelektual tingkat tinggi yang membutuhkan kaum terpelajar.

Pemerintah perlu memberikan insentif khusus bagi universitas yang berani membuka prodi ini, baik berupa hibah riset maupun beasiswa ikatan dinas. Ini adalah investasi negara. Biaya yang dikeluarkan untuk mendidik ahli bencana jauh lebih murah dibandingkan kerugian triliunan rupiah yang harus ditanggung negara setiap kali bencana besar terjadi tanpa penanganan yang tepat.

Ketidakhadiran prodi ini menunjukkan adanya kelembaman dalam birokrasi pendidikan kita yang sulit beradaptasi dengan kebutuhan nyata. Kita terlalu sibuk mengejar peringkat universitas dunia (World Class University) namun lupa menjadi World Class Problem Solver bagi masalah di halaman rumah sendiri. Relevansi harus didahulukan daripada sekadar prestise.

Bayangkan jika kita memiliki ribuan sarjana kebencanaan yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Mereka akan menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat, mengubah kultur pasrah menjadi kultur siaga. Mereka akan merancang sistem peringatan dini yang efektif, bukan yang mati karena tidak terawat atau dicuri komponennya. Studi kebencanaan juga berpotensi menjadi komoditas ekspor pendidikan Indonesia. Negara-negara lain yang juga rawan bencana akan belajar ke Indonesia, menjadikan kita sebagai pusat rujukan global (Center of Excellence).

Ini adalah peluang soft diplomacy yang luar biasa, di mana Indonesia dikenal bukan karena korban bencananya, tapi karena kehebatan manajemen bencananya. Saat ini, kita masih terjebak dalam pola manajemen pemadam kebakaran, bereaksi panik saat api sudah membesar. Dengan adanya basis akademis yang kuat, kita bisa beralih ke manajemen risiko yang preventif. Mencegah, atau setidaknya meminimalisir dampak, harus menjadi doktrin utama yang ditanamkan melalui pendidikan formal.

Saya melihat fenomena banjir bandang di Sumatera ini sebagai “wake up call” terakhir. Jika setelah kejadian dengan korban 800 jiwa ini kita masih diam dan tidak melakukan reformasi pendidikan, maka kita sedang melakukan pembiaran terstruktur. Generasi mendatang akan menuntut pertanggungjawaban kita atas kelalaian mempersiapkan sistem pertahanan sipil yang memadai.

Para Rektor dan pengambil kebijakan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi harus segera duduk bersama dengan BNPB. Jangan biarkan birokrasi akreditasi menghambat inovasi prodi baru yang sifatnya mendesak ini. Kita butuh terobosan, breakthrough, bukan prosedur normatif yang memakan waktu tahunan. Dunia usaha juga harus dilibatkan dalam penyusunan kurikulum agar terjadi kesesuaian kompetensi. Perusahaan asuransi, perusahaan konstruksi, dan NGO internasional bisa menjadi mitra strategis dalam pengembangan prodi ini. Ekosistem penta-helix (pemerintah, akademisi, badan usaha, masyarakat, media) harus bekerja sama mewujudkannya.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai, namun setiap penundaan dibayar dengan nyawa. Kita harus berani keluar dari kotak-kotak disiplin ilmu tradisional yang kaku. Bencana tidak mengenal batas administrasi jurusan, maka ilmunya pun harus integratif dan adaptif. Ke depan, “Sarjana Kebencanaan” harus menjadi gelar yang dibanggakan, simbol dari kecerdasan bangsa dalam beradaptasi dengan alamnya. Mereka adalah guardian atau penjaga kelestarian bangsa di tengah ancaman perubahan iklim global yang semakin tidak menentu.

Saya membayangkan masa depan di mana berita bencana tidak lagi didominasi oleh jumlah korban tewas, melainkan kisah sukses evakuasi nir-korban berkat kesigapan sistem. Itu adalah visi yang sangat mungkin dicapai jika kita mau memulai investasi pendidikan hari ini. Mari kita sudahi era “kaget dan bingung” menghadapi bencana. Sudah saatnya kita memimpin perubahan dengan sains dan manajemen yang terukur. Indonesia Tangguh bukan sekadar slogan, tapi harus menjadi output dari sistem pendidikan kita.

Bencana di Sumatera adalah duka kita bersama, namun kegagalan kita belajar darinya adalah kebodohan kita bersama. Pilihan ada di tangan kita: terus menjadi korban, atau bangkit menjadi pengelola risiko yang cerdas.

Data Riset Terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa frekuensi kejadian cuaca ekstrem di Indonesia meningkat 15% setiap tahun dari 2020 hingga 2025. Studi ini melibatkan analisis data dari 120 stasiun cuaca di seluruh Indonesia dan menemukan bahwa curah hujan ekstrem lebih sering terjadi di daerah pesisir, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Infografis yang dirilis oleh BMKG menunjukkan tren kenaikan suhu rata-rata harian sebesar 0,2Β°C per tahun, yang berkontribusi terhadap peningkatan intensitas hujan dan risiko banjir bandang. Studi kasus di Aceh menunjukkan bahwa sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan aplikasi mobile dapat mengurangi korban jiwa hingga 40% dalam kejadian banjir bandang.

Indonesia membutuhkan lebih dari 5.000 profesional kebencanaan terlatih untuk mengelola risiko bencana secara efektif. Setiap kota dan kabupaten idealnya memiliki tim ahli kebencanaan dengan latar belakang multidisiplin yang mampu merancang dan mengimplementasikan strategi mitigasi. Pendidikan kebencanaan harus menjadi prioritas nasional, bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa, tetapi juga untuk membangun ketahanan ekonomi dan sosial jangka panjang. Dengan mengadopsi pendekatan preventif dan berbasis data, kita dapat mengubah Indonesia dari negara yang rentan menjadi negara yang tangguh menghadapi bencana alam.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan