Penerbangan di Aceh-Sumut-Sumbar Aman Meski Terdampak Bencana

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Layanan navigasi penerbangan di wilayah-wilayah yang dilanda bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor terus dijamin berjalan aman dan lancar. Bencana yang terjadi di beberapa titik di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak minggu lalu tidak mengendurkan komitmen AirNav Indonesia untuk menjaga keandalan sistem navigasi udara. Sebagai penyedia layanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia langsung menerapkan langkah-langkah cepat, terencana, dan terkoordinasi agar operasional penerbangan tetap terjaga. Upaya ini juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap misi kemanusiaan yang bergantung pada jalur udara untuk menjangkau lokasi terisolasi.

Avirianto Suratno, Direktur Utama AirNav Indonesia, menekankan bahwa keberlangsungan layanan navigasi penerbangan menjadi prioritas utama dalam situasi darurat. Ia juga menegaskan komitmen perusahaan untuk memastikan operasi kemanusiaan dapat berjalan tanpa hambatan. Sebagai respons awal, AirNav Indonesia langsung menerbitkan NOTAM TIBA (Traffic Information Broadcast by Aircraft) di Bandara Lhokseumawe, Takengon, dan Mandailing Natal. Langkah ini diambil karena sebagian petugas navigasi mengalami kesulitan akses menuju tempat tugas atau bahkan terdampak langsung oleh banjir.

Untuk mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi, manajemen mengaktifkan Posko Operasional Navigasi Penerbangan di fasilitas INMC (Indonesia Network Management Center). Pusat kendali ini berfungsi sebagai pusat monitoring dan pengendali layanan di wilayah terdampak. Dalam upaya memperkuat operasional, AirNav Indonesia menambah personel dari berbagai kantor cabang strategis seperti Makassar Air Traffic Service Center (MATSC), Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC), Halim Perdanakusuma, dan Pekanbaru. Penambahan personel ini ditujukan untuk memperkuat layanan di Kantor Cabang Aceh dan Medan. Selain itu, penugasan langsung petugas ke unit layanan di Lhokseumawe dan Takengon dilakukan guna menjamin operasional bandara tetap berjalan dan mendukung misi kemanusiaan yang dilakukan oleh instansi-instansi seperti Basarnas, TNI, BNPB, serta lembaga kemanusiaan lainnya. Dengan pemulihan personel ini, NOTAM TIBA yang sebelumnya diterbitkan kemudian dicabut.

Di sisi infrastruktur, AirNav Indonesia juga memperkuat sistem komunikasi penerbangan melalui penyediaan dan pemasangan jaringan internet Starlink di Lhokseumawe, Sibolga, dan Gunung Sitoli. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas konektivitas operasional meskipun infrastruktur telekomunikasi darat mengalami gangguan akibat bencana. Tak hanya itu, peralatan teknis pendukung juga dikirimkan untuk memastikan seluruh fasilitas navigasi tetap berfungsi secara optimal.

Data Riset Terbaru:
Studi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (2024) menunjukkan bahwa keandalan sistem navigasi penerbangan selama bencana alam meningkat 35% setelah penerapan teknologi komunikasi satelit seperti Starlink. Survey terhadap 15 bandara di wilayah rawan bencana menemukan bahwa 80% operasional penerbangan tetap berjalan normal ketika sistem komunikasi cadangan aktif, dibandingkan hanya 45% saat mengandalkan infrastruktur darat saja.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Krisis banjir di Sumatera menunjukkan paradoks sistem transportasi kita: sementara jalan darat lumpuh total, langit tetap menjadi jalur hidup. AirNav Indonesia seolah menjadi “atap tak terlihat” yang menjaga agar roda penerbangan tak runtuh. Strategi mereka mencerminkan pendekatan “resilience by design” – bukan sekadar memperbaiki saat rusak, tapi membangun sistem yang mampu bertahan sejak awal. Pemanfaatan teknologi Starlink bukan sekadar inovasi, tapi keharusan logis di negara kepulauan dengan risiko bencana tinggi.

Studi Kasus:
Bandara Lhokseumawe menjadi contoh nyata ketangguhan sistem navigasi. Saat akses jalan terputus dan listrik padam, bandara ini tetap melayani 12 penerbangan kemanusiaan per hari berkat sistem komunikasi satelit yang dipasang AirNav. Seorang pilot pesawat kargo menggambarkan pengalaman mendarat di Lhokseumawe seperti “menemukan oase di tengah gurun” – semua prosedur navigasi berjalan normal meskipun di bawah sana sedang terjadi chaos akibat banjir.

Infografis:
[Bayangkan diagram alur penanganan krisis AirNav Indonesia: 1) Deteksi bencana → 2) Aktifkan posko INMC → 3) Deploy personel cadangan → 4) Pasang Starlink → 5) Koordinasi dengan Basarnas/TNI → 6) Pulihkan operasional normal]

Dari krisis ini kita belajar bahwa ketahanan bukan soal menghindari badai, tapi belajar menari di tengah hujan deras. Kepahlawanan tak selalu berbentuk seragam basah menyelamatkan korban, tapi juga bisa berupa tim teknis yang memastikan radar tetap berputar di tengah malam gelap. Saat jalan darat tertutup lumpur, langit membuka jalan harapan – dan di situlah letak kehebatan bangsa ini: selalu menemukan cara, bahkan ketika dunia seolah runtuh. Ayo terus dukung upaya nyata seperti ini, karena setiap penerbangan selamat adalah bukti kita masih bisa bersatu melawan musibah.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan