Konstruksi Tol Semarang-Demak Seksi 1 Capai 58%, Target Operasional 2027

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memberikan informasi terkini mengenai perkembangan pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1, yang membentang dari Kaligawe menuju Sayung. Berdasarkan data terbaru, kemajuan proses konstruksi jalan tol sepanjang 10,64 kilometer ini telah mencapai 58,31%. Jalan tol ini dirancang secara khusus agar selaras dengan pembangunan Tanggul Laut (Giant Sea Wall) dan sistem polder, sehingga tidak hanya meningkatkan konektivitas antar wilayah tetapi juga berperan sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi banjir rob yang kerap menggenangi kawasan tersebut.

Menteri PUPR Dody Hanggodo menegaskan, percepatan pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1 merupakan bagian dari upaya menyeluruh dalam mengendalikan banjir rob di kawasan Kaligawe dan sekitarnya. Di samping pembangunan tol, Kementerian PU juga melakukan sejumlah tindakan pendukung seperti pembuatan kolam retensi, instalasi rumah pompa, serta pembuatan sodetan Sayung. “Kita terus memantau langsung progres penanganan banjir rob di Kaligawe. Meskipun belum sepenuhnya selesai, namun perkembangan yang terlihat sangat menggembirakan,” ujar Dody.

Berdasarkan data per 24 November 2025, kemajuan konstruksi secara keseluruhan mencapai 58,31%, yang terbagi ke dalam tiga paket pekerjaan utama. Paket 1A mencatat kemajuan sebesar 81,18%, Paket 1B mencapai 55,39%, dan Paket 1C berada di angka 45,82%. Setiap paket menunjukkan percepatan dalam pengerjaan struktur, pembangunan tanggul laut, dan fasilitas pendukung sistem polder. Infrastruktur penunjang berupa tanggul laut yang terintegrasi dengan jalur tol kini telah tersambung sepenuhnya, menjadi fondasi penting dalam penanganan banjir rob.

Selain pembangunan tol yang terintegrasi dengan tanggul laut, Kementerian PU juga menempatkan mobile pump di sejumlah titik yang rawan tergenang air rob, khususnya di kawasan Kaligawe dan Sayung. Upaya ini dilakukan sebagai solusi sementara hingga infrastruktur utama selesai. Tak hanya itu, Kementerian PU juga tengah membangun sistem pengendali banjir Tenggang-Sringin Tahap 1 yang meliputi enam unit rumah pompa dengan kapasitas total 81 meter kubik per detik, serta tanggul sungai sepanjang 10,53 kilometer. Infrastruktur ini nantinya akan menjadi penopang utama sistem polder Tanggul Laut Semarang-Demak.

Dody menjelaskan, dengan hadirnya infrastruktur pengendali banjir ini, diharapkan dapat mereduksi genangan banjir di area seluas 4.429 hektare dan memberikan perlindungan bagi 254.546 jiwa yang tersebar di Kecamatan Pedurungan, Gayamsari, dan Genuk. Dengan progres yang berjalan sesuai target, Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 ditargetkan dapat mulai beroperasi pada April 2027. Kehadiran tol ini tidak hanya akan menjadi solusi permanen terhadap banjir rob, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kelancaran arus logistik di jalur Pantai Utara (Pantura).

“Kita ingin memastikan bahwa progres di lapangan berjalan dengan baik. Tol ini bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi juga menjadi tameng utama kita dalam menghadapi ancaman rob di Semarang,” tegas Dody.


Data Riset Terbaru:

Studi dari Universitas Diponegoro (2024) menunjukkan bahwa kawasan pesisir Semarang mengalami penurunan tanah (land subsidence) dengan kecepatan rata-rata 8-10 cm per tahun, menjadikannya salah satu wilayah dengan laju penurunan paling tinggi di Indonesia. Penelitian ini juga mengungkap bahwa kombinasi antara penurunan tanah, kenaikan muka air laut, dan curah hujan ekstrem menjadi penyebab utama banjir rob yang semakin sering terjadi. Solusi jangka panjang seperti integrasi jalan tol dengan tanggul laut dan sistem polder, dinilai efektif dalam mengurangi risiko banjir hingga 60% dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.


Analisis Unik dan Simplifikasi:

Mengapa integrasi jalan tol dengan tanggul laut menjadi solusi strategis? Jawabannya terletak pada prinsip efisiensi ruang dan fungsi ganda infrastruktur. Di kawasan pesisir yang padat, lahan terbatas membuat pembangunan infrastruktur konvensional kurang efektif. Dengan menggabungkan jalan tol dan tanggul laut, pemerintah tidak hanya menghemat lahan tetapi juga menciptakan infrastruktur yang multifungsi: sebagai jalur transportasi sekaligus pelindung dari ancaman banjir rob. Pendekatan ini juga memungkinkan pengelolaan air hujan dan air rob secara terpadu melalui sistem polder, yang dapat menampung dan mengalirkan air secara terkendali.


Studi Kasus: Sistem Polder di Rotterdam

Rotterdam, Belanda, menjadi contoh kota pesisir yang sukses mengelola ancaman banjir dengan sistem polder terintegrasi. Kota ini memiliki lebih dari 50 polder yang tersebar di seluruh wilayah, yang mampu mengendalikan aliran air secara otomatis menggunakan pompa canggih. Keberhasilan Rotterdam menunjukkan bahwa sistem polder, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi solusi jangka panjang bagi kota-kota pesisir yang menghadapi ancaman serupa.


Infografis (Konsep):

  1. Komponen Utama Sistem:

    • Jalan Tol Terintegrasi Tanggul Laut (10,64 km)
    • Sistem Polder (Penampungan dan Pengaliran Air)
    • Rumah Pompa (6 unit, kapasitas 81 m³/detik)
    • Tanggul Sungai (10,53 km)
  2. Manfaat Ganda:

    • Transportasi: Mempercepat arus logistik di jalur Pantura
    • Perlindungan: Mengurangi risiko banjir rob hingga 60%
  3. Target Operasional:

    • April 2027: Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 beroperasi
    • 2030: Seluruh sistem polder dan tanggul laut terintegrasi

Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan dukungan teknologi modern, integrasi jalan tol dengan sistem pengendali banjir di Semarang bukan sekadar mimpi, tetapi langkah nyata menuju ketahanan pesisir yang berkelanjutan. Mari dukung percepatan pembangunan ini, karena setiap meter jalan yang dibangun bukan hanya membawa kita lebih dekat ke tujuan, tetapi juga lebih aman dari ancaman banjir. Bersama, kita wujudkan Semarang yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan