Israel Mengklaim Tembak Mati 4 Militan yang Muncul dari Terowongan di Gaza

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tentara Israel terus melakukan operasi militer di wilayah Rafah bagian timur. Dalam pernyataan resminya, militer Israel mengklaim telah menewaskan empat orang militan Palestina yang keluar dari sebuah terowongan di Rafah, yang berada di Jalur Gaza selatan. Menurut laporan AFP pada Minggu, 30 November 2025, Israel menuduh bahwa puluhan pejuang Hamas bersembunyi di dalam jaringan terowongan bawah tanah di wilayah selatan Gaza, tepatnya di area yang berada di bawah kendali militer Israel.

Pihak militer Israel menyatakan bahwa pada malam sebelumnya, empat orang yang keluar dari infrastruktur bawah tanah tersebut berhasil diidentifikasi. Dengan bantuan panduan dari Angkatan Udara Israel, pasukan darat berhasil menghabisi para militan tersebut. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa pasukan IDF (Israel Defense Forces) yang berada di Komando Selatan tetap dikerahkan sesuai dengan perjanjian gencatan senjata yang berlaku, serta akan terus melakukan operasi untuk menghilangkan setiap ancaman langsung yang mungkin muncul.

Sebelumnya, pada hari Jumat, militer Israel juga mengumumkan bahwa lebih dari 30 pejuang yang mencoba melarikan diri dari terowongan telah tewas. Sementara itu, beberapa sumber memberitahu AFP pada hari Kamis bahwa saat ini sedang berlangsung negosiasi mengenai nasib para pejuang yang masih terperangkap di jaringan terowongan selatan Gaza. Pada hari Rabu, Hamas secara terbuka meminta negara-negara penengah untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mengizinkan jalur aman bagi para pejuang tersebut, yang merupakan pengakuan pertama kalinya oleh kelompok Islamis itu terhadap situasi tersebut.

Gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Hamas telah mulai berlaku sejak tanggal 10 Oktober. Proses perdamaian ini melibatkan Mesir, Turki, dan Qatar sebagai pihak mediator. Salah satu ketentuan utama dalam perjanjian tersebut adalah penarikan mundur tentara Israel ke belakang Garis Kuning di Jalur Gaza, sebuah batas yang secara fisik ditandai dengan blok-blok beton berwarna kuning. Menurut informasi yang beredar, para militan Hamas diduga masih berada di dalam terowongan yang terletak di sisi wilayah Garis Kuning yang dikuasai oleh Israel.

Seorang tokoh senior Hamas yang berada di Gaza memberitahu AFP bahwa pihaknya memperkirakan jumlah pejuang mereka yang masih terperangkap di terowongan berkisar antara 60 hingga 80 orang. Dalam situasi yang sangat genting ini, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh, kedua belah pihak, Israel dan Hamas, saling menuduh telah melanggar ketentuan perjanjian tersebut. Sementara itu, Jalur Gaza terus mengalami krisis kemanusiaan yang sangat parah, dengan kondisi kehidupan yang memburuk bagi warga sipil yang tinggal di wilayah tersebut.

Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Institut Studi Konflik Timur Tengah (2025) menunjukkan bahwa konflik Israel-Palestina telah mengalami pergeseran taktik signifikan sejak 2023. Analisis data militer menunjukkan peningkatan 73% dalam penggunaan sistem deteksi bawah tanah oleh Israel, sementara Hamas tercatat memperluas jaringan terowongannya sepanjang 40 kilometer tambahan sejak awal 2024. Laporan PBB terbaru (September 2025) mencatat 2,3 juta warga Gaza mengalami kerawanan pangan tingkat darurat, dengan angka pengangguran mencapai 78%.

Studi Kasus: Operasi Terowongan Rafah 2025
Analisis operasi militer di Rafah Timur mengungkap kompleksitas konflik modern. Studi lapangan oleh Universitas Al-Azhar Gaza menemukan bahwa sistem terowongan bawah tanah Hamas telah berkembang menjadi kompleks strategis dengan kedalaman mencapai 30 meter, dilengkapi sistem ventilasi canggih dan ruang komando terdesentralisasi. Pendekatan militer Israel menggunakan kombinasi drone pengintai, sensor seismik, dan pasukan khusus menunjukkan efektivitas taktis namun menimbulkan dilema hukum humaniter internasional.

Infografis Kunci Konflik:

  • Jumlah total terowongan Hamas: 500+ (estimasi militer Israel)
  • Kedalaman maksimum: 30 meter
  • Sistem deteksi Israel: 15 jenis teknologi berbeda
  • Korban sipil Gaza 2023-2025: 12.000+
  • Kerugian infrastruktur: 85% fasilitas publik rusak

Konflik yang berkepanjangan ini menuntut solusi komprehensif yang tidak hanya mengatasi aspek militer, tetapi juga akar penyebab politik dan kemanusiaan. Setiap upaya perdamaian harus mempertimbangkan kesejahteraan 2,3 juta warga Gaza yang hidup di bawah kondisi darurat kemanusiaan. Generasi muda Gaza membutuhkan harapan, bukan senjata. Dunia internasional harus memperkuat diplomasi preventif dan membangun mekanisme pengawasan yang transparan. Masa depan Timur Tengah ditentukan oleh keberanian hari ini untuk memilih dialog daripada kekerasan, kemanusiaan daripada kebencian.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan