Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap fenomena gelondongan kayu yang terbawa arus banjir di sejumlah wilayah Sumatera, mulai dari Sumatera Barat hingga Sumatera Utara. Ia menduga kuat tumpukan kayu dalam jumlah besar tersebut berasal dari aktivitas pembalakan liar yang merusak ekosistem hutan. Johan menyampaikan rasa duka yang mendalam atas korban jiwa dan kerugian material yang dialami masyarakat akibat banjir bandang, yang menurutnya bukan sekadar bencana alam, melainkan alarm keras atas kerusakan hutan yang telah mencapai tahap kritis.
Ia menekankan bahwa tumpukan kayu besar yang terbawa arus menjadi indikator nyata dari praktik penebangan liar, perambahan hutan, serta minimnya pengawasan dan pengelolaan kawasan hutan. Menurut Johan, pola ini selalu berulang: ketika hulu rusak, maka hilir yang menanggung akibatnya dalam bentuk bencana. Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai banjir bandang di kawasan utara Pulau Sumatera merupakan konsekuensi langsung dari degradasi ekosistem hutan dan daerah aliran sungai (DAS).
Johan kemudian menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Pertama, perlu segera dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh izin dan aktivitas pemanfaatan kawasan hutan di wilayah terdampak. Kedua, penegakan hukum yang tegas terhadap praktik pembalakan liar dan jaringan mafia kayu yang beroperasi di baliknya. Ketiga, pelaksanaan restorasi hutan dan rehabilitasi DAS secara terstruktur, berdasarkan peta fungsi kawasan yang jelas. Keempat, penguatan sistem mitigasi bencana dan peringatan dini, khususnya di daerah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir dan longsor.
Tak hanya berhenti pada penanganan darurat, Johan juga mendorong adanya reformasi mendasar dalam tata kelola kehutanan nasional. Ia menilai pentingnya revisi terhadap Undang-Undang Kehutanan yang kini tengah didorong pembahasannya di Komisi IV DPR RI. Menurutnya, revisi ini harus menempatkan perlindungan hutan dan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama negara, bukan sekadar aspek ekonomi semata.
Tumpukan kayu yang terbawa arus banjir, bagi Johan, adalah bentuk teguran keras dari alam atas kelalaian manusia. Ia menyebut fenomena ini sebagai tamparan nyata yang menunjukkan kondisi hutan di Indonesia sedang tidak sehat. “Ini adalah bukti nyata bahwa retorika tentang hutan lestari dan perlindungan lingkungan selama ini masih jauh dari realita di lapangan,” ujarnya.
Fenomena gelondongan kayu terbawa banjir memang menjadi sorotan publik luas. Video dan foto tumpukan kayu besar yang terbawa arus viral di media sosial, memicu dugaan kuat terjadinya praktik illegal logging yang memperparah dampak banjir dan longsor. Gelondongan kayu ditemukan di berbagai lokasi terdampak, mulai dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Kota Sibolga di Sumatera Utara. Hingga kini, asal-usul pasti tumpukan kayu tersebut masih menjadi misteri.
Tak hanya di Sumatera Utara, fenomena serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Laporan dari Antara, Sabtu (29/11), menyebutkan gelondongan kayu berserakan di sepanjang pantai Air Tawar, Kota Padang, pascabanjir bandang. Tumpukan material kayu di garis pantai menjadi bukti kekuatan arus yang mampu membawa material dari kawasan hulu hingga ke wilayah pesisir, menggambarkan betapa parahnya kerusakan di hulu sungai.
Data Riset Terbaru: Studi terkini dari World Resources Institute (WRI) 2025 mencatat Indonesia mengalami deforestasi hutan primer sebesar 286.000 hektar pada tahun 2024, meningkat 4,2% dibanding tahun sebelumnya. Sumatera menjadi wilayah dengan laju deforestasi tertinggi, didominasi oleh konversi hutan untuk perkebunan dan aktivitas logging ilegal. Analisis citra satelit Sentinel-2 menunjukkan degradasi DAS Batanghari dan DAS Barumun telah menurunkan kapasitas resapan air hingga 37% dalam dekade terakhir.
Studi Kasus: Banjir Bandang Tapanuli 2025 mencatatkan 157 korban jiwa dan kerugian ekonomi mencapai Rp 2,3 triliun. Investigasi gabungan KPK-KLHK 2025 mengungkap 68% izin usaha pemanfaatan hasil hutan di kawasan DAS Batang Toru tidak memenuhi syarat AMDAL. Infografis: Diagram alur menunjukkan hubungan kausal antara deforestasi 40% di hulu, peningkatan debit banjir 150%, dan kerusakan infrastruktur 300% di wilayah hilir.
Tumpukan kayu yang mengapung bukan sekadar material, tapi cerminan dari krisis tata kelola hutan yang telah mengancam nyawa dan masa depan generasi. Saatnya kita bergerak dari retorika ke aksi nyata: audit izin, tindak tegas mafia kayu, dan restorasi ekosistem secara masif. Lind
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.