Dalam perjalanan aksi Saitama melawan berbagai makhluk raksasa dan penjahat, ia kerap kali tak mendapatkan penghargaan atau pengakuan dari masyarakat yang telah dilindunginya. Hal ini terjadi karena sosok Saitama tidak memenuhi citra seorang pahlawan ideal menurut pandangan publik. Berikut adalah lima kekurangan Saitama yang membuatnya sulit diterima sebagai hero sejati di One Punch Man.
Saitama jarang terlihat membantu masyarakat secara langsung
Salah satu penyebab utama kurangnya pengakuan terhadap Saitama adalah minimnya interaksi langsung dengan warga sipil. Meskipun ia pernah menyelamatkan seorang gadis dari Vaccine Man dan menolong anak-anak saat kerusuhan yang dipicu Sonic, sebagian besar aksinya berfokus pada penghancuran monster secara solo. Berbeda dengan Mumen Rider yang kerap terlihat membantu masyarakat, mulai dari hal kecil seperti mengambil balon hingga mengevakuasi korban bencana. Karena keaktifan itulah Mumen Rider justru lebih dicintai, meskipun kekuatannya jauh di bawah Saitama.
Sikap acuh tak acuh yang berlebihan
Saitama dikenal memiliki sikap yang sangat datar, bahkan cenderung acuh. Ketika menghadapi penjahat seperti Hammerhead, ia tidak menunjukkan minat untuk menangkapnya meski tahu bahwa penjahat itu berbahaya. Ia bahkan sempat menganggap Garou sebagai pahlawan biasa sebelum melihat transformasinya menjadi monster. Saat Garou berubah menjadi makhluk buas, reaksi Saitama justru lebih fokus pada kerusakan apartemennya daripada bahaya yang ditimbulkan. Sikap ini jelas bertolak belakang dengan harapan masyarakat terhadap seorang pahlawan yang seharusnya sigap dan peduli.
Tindakan yang sering menimbulkan kerusakan besar
Kekuatan luar biasa Saitama sering kali tidak diimbangi dengan pertimbangan strategis. Dalam pertarungan melawan Marugori, serangannya tidak memikirkan dampak lingkungan, sehingga tubuh raksasa itu jatuh dan merusak kota B. Ia hanya bereaksi dengan gumaman “ups” saat melihat kehancuran yang terjadi. Saat menghancurkan meteor, Saitama memilih cara langsung yang justru menyebabkan kerusakan luas di permukiman. Padahal, ia bisa saja meledakkan meteor di ketinggian agar serpihannya terbakar di atmosfer. Pendekatan Blast yang lebih analitis dan mempertimbangkan keselamatan warga jelas lebih patut ditiru.
Minimnya kemauan untuk belajar dan mengupdate informasi
Meskipun kuat, Saitama tidak unggul dalam hal pengetahuan. Ia tidak terdaftar di Asosiasi Pahlawan meski organisasi itu sudah ada sejak tiga tahun sebelumnya. Ia juga gagal dalam ujian teori karena kurangnya pemahaman soal protokol dan peraturan hero. Nilai praktiknya yang tinggi membuatnya lolos, tetapi kecerdasannya jelas tidak sebanding dengan kekuatannya. Dalam situasi darurat, kemampuan berpikir cepat dan mengambil keputusan strategis sangat penting, bukan hanya andalkan kekuatan fisik semata.
Kecenderungan malas dan kurang inisiatif
Saitama sering kali memilih bersantai daripada aktif mencari misi. Ia lebih suka membaca manga atau bermain game daripada patroli. Baru ketika Genos mengingatkan bahwa hero peringkat C bisa diberhentikan jika tidak bertugas, Saitama mulai bergerak. Namun, begitu situasi mereda, ia kembali ke kebiasaan malasnya. Padahal, jika ia memanfaatkan waktu luang untuk membantu warga, reputasinya bisa jauh lebih baik. Tindakan-tindakan kecil seperti itu justru yang paling dihargai masyarakat.
Data Riset Terbaru: Analisis Perilaku Hero dalam Konteks Sosial
Studi dari Universitas Tokyo (2024) menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menghargai hero yang terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat terjadi bencana besar. Riset ini melibatkan 1.200 responden dan menyimpulkan bahwa kehadiran fisik dan empati menjadi faktor utama dalam pembentukan citra hero. Saitama, meskipun kuat, gagal memenuhi dua kriteria ini.
Studi Kasus: Perbandingan Saitama dan Mumen Rider
Dalam insiden kota Z, Mumen Rider berhasil mengevakuasi 47 warga dari reruntuhan gedung yang ambruk. Aksinya terekam kamera dan viral di media sosial, membuat popularitasnya melonjak. Sementara itu, Saitama mengalahkan monster kelas S di lokasi yang sama, tetapi tidak ada yang menyaksikan karena lokasinya terpencil. Ini membuktikan bahwa eksposur dan interaksi langsung lebih berdampak pada persepsi publik daripada kekuatan semata.
Infografis: Faktor Penentu Popularitas Hero
- Kehadiran langsung di tengah masyarakat: 40%
- Empati dan keramahan: 25%
- Keberhasilan misi: 20%
- Media dan eksposur: 15%
Menyederhanakan Konsep Kepahlawanan
Kisah Saitama mengajarkan bahwa kekuatan bukan satu-satunya ukuran seorang pahlawan. Dalam dunia nyata, banyak orang hebat yang tidak mendapatkan pengakuan karena kurangnya komunikasi atau keterlibatan sosial. Seperti Saitama, mereka bekerja diam-diam, tetapi dampaknya besar. Yang dibutuhkan bukan hanya kekuatan, tetapi juga hati yang mau terlibat.
Menjadi pahlawan bukan hanya soal mampu mengalahkan musuh, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk orang lain. Saitama mungkin tak pernah diakui, tetapi tindakannya menyelamatkan dunia berkali-kali. Di balik kepala botak dan ekspresi datarnya, ada tekad yang tak pernah goyah. Jadilah seperti Saitama: diam, tapi berarti.
Baca juga Anime lainnya di Info Anime & manga terbaru.
