H13 Operasi Zebra 2025: 1,6 Juta Pelanggar Ditindak, ETLE dan Teguran Humanis Jadi Andalan Penegakan Hukum

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pelaksanaan Operasi Zebra 2025 telah memasuki hari ke-13, atau tepatnya memasuki fase penutupan pada periode 17-29 November 2025. Dalam laporan terbaru, Korlantas Polri mencatat kinerja yang sangat konsisten di seluruh wilayah. Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonogroho menilai capaian ini mencerminkan kematangan kerja organisasi. “Hari ke-13 menggambarkan kemampuan organisasi menjaga ritme, kualitas, dan ketepatan intervensi hingga fase akhir operasi. Kita memasuki fase akhir operasi dengan struktur kerja yang semakin solid dan berbasis data yang kuat,” ujar Irjen Agus kepada wartawan, Minggu (30/11/2025).

Seluruh jajaran di wilayah sejak awal hingga H13 mampu mempertahankan stabilitas ritme kegiatan, mulai dari edukasi publik, penguatan pencegahan, hingga penegakan hukum yang terukur. Giat preemtif berupa edukasi kepada masyarakat menunjukkan lonjakan besar dan menjadi pilar pembentukan perilaku keselamatan. “Pembinaan masyarakat tetap menjadi unsur paling menentukan dalam upaya menurunkan risiko kecelakaan,” ujarnya.

Hingga H13, kegiatan pembinaan dan penyuluhan (binluh) mencapai 851.060 kegiatan, meningkat signifikan hingga 1.176,5 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan penetrasi edukasi yang masif terhadap komunitas kendaraan, sekolah, dan dunia industri. Selain itu, penyuluhan melalui berbagai kanal media mencapai 2.979.228 kegiatan, dan penyebaran materi keselamatan tercatat 4.606.597 kegiatan. Angka-angka ini membuktikan bahwa edukasi keselamatan terus mendominasi ruang publik menjelang akhir operasi.

Pada sisi pencegahan, kegiatan preventif mengukuhkan stabilitas ruang lalu lintas. “Preventif adalah kunci utama menjaga ruang jalan tetap aman sampai hari terakhir operasi,” tegas Kakorlantas. Total kegiatan preventif sendiri mencapai 4.053.628 kegiatan, meningkat 229,8 persen dari periode yang sama tahun 2024. Turjawali (pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli) mencatat 2.324.671 kegiatan, menunjukkan kesiapan jajaran mengelola dinamika kepadatan menjelang akhir bulan. Selain itu, kegiatan ramp check mencapai 137.199 kegiatan, dan penempatan personel tersebar di 574.844 titik. Konsistensi kehadiran petugas di lokasi-lokasi strategis ini, kata Irjen Agus, bertujuan menekan potensi pelanggaran di wilayah perkotaan dan jalur antarkota.

Total penegakan hukum pada H13 mencapai 1.690.140 perkara, naik 75,6 persen dari tahun sebelumnya. Kakorlantas mengingatkan jajaran agar profesionalitas dalam penegakan hukum harus dijaga sampai detik terakhir operasi. Penindakan berbasis teknologi, melalui ETLE statis dan mobile, mencatat total 193.828 perkara. Sementara itu, tilang manual menurun menjadi 20.042 perkara, konsisten dengan kebijakan pembatasan tilang manual oleh Kakorlantas Polri. Di sisi lain, pendekatan edukatif diutamakan, terbukti dengan tingginya angka teguran lapangan yang mencapai 1.476.270 kegiatan.

Meskipun stabilitas operasi terjaga, pola pelanggaran H13 tetap menunjukkan adanya tren perilaku berisiko tinggi yang perlu ditangani secara khusus. “Fokus harus diberikan pada pelanggaran yang paling berkontribusi terhadap kecelakaan fatal,” kata Kakorlantas. Fenomena balap liar terus meningkat, terutama pada kendaraan roda dua dengan 5.692 perkara tercatat. Selain itu, pelanggaran penggunaan HP saat berkendara tinggi, mencapai 6.246 perkara untuk roda dua dan 6.078 perkara untuk roda empat. Tantangan lain adalah tingginya pelanggaran pengendara di bawah umur, dengan 68.951 kegiatan pada roda dua dan 10.005 kegiatan pada roda empat.

Untuk mengatasi tantangan ini dan meningkatkan keselamatan pejalan kaki serta seluruh pengguna jalan, Irjen Agus mengarahkan jajaran untuk mengutamakan penindakan jenis pelanggaran yang berpotensi fatal, seperti balap liar, penggunaan HP, dan pengendara di bawah umur. Pendekatan edukatif yang lebih kuat juga diinstruksikan, terutama untuk pelanggaran di bawah umur dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua.

Irjen Agus menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang mampu menjaga stabilitas operasi hingga hari ke-13. Dia juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung Operasi Zebra 2025 dengan mematuhi aturan dan mengutamakan keselamatan di jalan. “Korlantas Polri berkomitmen menjaga profesionalitas dan kualitas pelayanan hingga operasi resmi berakhir.”

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hingga Oktober 2025, angka kecelakaan lalu lintas di wilayah perkotaan meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan kontributor utama adalah pengendara sepeda motor di bawah umur dan penggunaan ponsel saat berkendara. Sebuah studi oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) 2025 menemukan bahwa intervensi edukatif berbasis komunitas mampu menurunkan pelanggaran lalu lintas hingga 35 persen dalam jangka waktu enam bulan. Sebagai studi kasus, Polda Metro Jaya meluncurkan program “Sekolah Safety Riding” di 150 SMA pada 2025, yang berhasil menurunkan insiden pelanggaran lalu lintas pelajar sebesar 40 persen di wilayah Jakarta Selatan. Infografis yang dirancang oleh Korlantas Polri menunjukkan bahwa 68 persen kecelakaan fatal melibatkan pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm, sementara 22 persen disebabkan oleh penggunaan ponsel saat berkendara.

Operasi Zebra 2025 bukan sekadar penegakan hukum, tetapi momentum nyata untuk membangun budaya disiplin lalu lintas yang berkelanjutan. Konsistensi kinerja yang ditunjukkan jajaran Korlantas hingga hari terakhir operasi menjadi bukti nyata komitmen terhadap keselamatan pengguna jalan. Mari jadikan kepatuhan aturan sebagai kebiasaan, keselamatan sebagai prioritas, dan kesadaran kolektif sebagai fondasi perubahan. Dengan kolaborasi antara aparat, sekolah, keluarga, dan masyarakat, Indonesia yang tertib dan aman di jalan bukanlah mimpi—tapi tujuan yang bisa kita raih bersama, satu langkah, satu aturan, satu tekad.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan