Kayu-kayu besar terbawa arus banjir dahsyat di Sumatera Utara menjadi perhatian luas. Potongan-potongan kayu berukuran besar ini terlihat ikut mengalir bersama air banjir yang melanda wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga. Kejadian ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya, bahkan video kejadiannya menyebar luas dan langsung mencuri perhatian publik. Banyak warganet langsung menghubungkan keberadaan kayu-kayu tersebut dengan aktivitas penebangan liar yang diduga memperburuk kondisi lingkungan hingga memicu banjir dan tanah longsor. Hingga kini, asal-usul kayu-kayu yang terbawa arus banjir masih menjadi misteri dan belum terungkap secara pasti.
Merespons fenomena ini, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, langsung memberikan pernyataan. Ia menyatakan akan segera mengecek dan mengkaji kejadian tersebut. Pernyataannya disampaikan saat berada di Lanud Soewondo Medan dan dilaporkan oleh detikSumut pada Kamis (27/11/2025). Bobby menegaskan bahwa pihaknya akan segera melihat langsung kondisi di lapangan terkait banyaknya kayu gelondongan yang terbawa banjir. Namun, pada saat yang sama, ia juga menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak bencana. Selain evakuasi, upaya percepatan distribusi bantuan logistik, seperti makanan dan kebutuhan harian lainnya, termasuk popok bayi, juga menjadi prioritas utama penanganan bencana.
Tak hanya di Sumatera Utara, kejadian serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Seperti dilaporkan Antara pada Sabtu (29/11/2025), tumpukan kayu gelondongan juga memenuhi garis pantai di Air Tawar, Padang. Kayu-kayu tersebut berserakan di sepanjang pantai setelah banjir bandang menerjang wilayah tersebut. Fenomena ini menjadi bukti nyata kekuatan arus banjir yang mampu membawa material-material besar dari daerah hulu hingga ke pesisir. Tumpukan kayu di pantai menjadi gambaran konkret dari keganasan banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu di Padang, menunjukkan betapa luas dan jauhnya dampak bencana ini.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) juga langsung merespons cepat atas tersebarnya video-video yang memperlihatkan kayu gelondongan terbawa banjir. Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, memberikan keterangan resmi pada Sabtu (29/11/2025). Ia menduga awal bahwa kayu-kayu tersebut kemungkinan berasal dari Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) yang beroperasi di kawasan Area Penggunaan Lain (APL). Menurutnya, kayu-kayu yang tumbuh alami di area tersebut seharusnya tunduk pada regulasi kehutanan, khususnya aturan SIPPUH (Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan), yang mengatur tata cara pengelolaan hasil hutan.
Dwi menambahkan bahwa tim Gakkum Kemenhut sering kali melakukan operasi untuk membongkar modus pencurian kayu ilegal yang menggunakan skema PHAT. Operasi-operasi tersebut telah mengungkap sejumlah kasus di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—ketiga wilayah yang saat ini sedang dilanda banjir. Ketika ditanya kemungkinan kayu-kayu yang terbawa banjir tersebut merupakan hasil curian ilegal melalui skema PHAT, Dwi tidak menutup kemungkinan hal tersebut. Ia menyatakan bahwa timnya masih melakukan pengecekan lebih lanjut, namun dugaan sementara mengarah ke arah sana. Dwi mengatakan bahwa dugaan sementara adalah kayu-kayu tersebut merupakan sisa tebangan yang sudah lapuk dan kemudian terbawa arus banjir. Namun, untuk memastikan kebenarannya, pemerintah perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh oleh tim Gakkum Kemenhut, terlebih karena banjir masih terus terjadi di wilayah-wilayah tersebut.
Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari World Resources Institute (2024) menunjukkan bahwa Sumatera kehilangan 12% tutupan hutan primernya dalam dekade terakhir. Riset ini menggunakan citra satelit untuk melacak deforestasi dan menemukan korelasi kuat antara hilangnya hutan dan peningkatan frekuensi banjir bandang. Di Sumatera Utara, data Badan Informasi Geospasial (BIG) 2023 menunjukkan penurunan tutupan hutan sebesar 6,8% dalam lima tahun terakhir, terutama di kawasan hulu sungai Batang Toru. Analisis ini mengungkap bahwa pembukaan lahan dan penebangan liar menjadi faktor utama hilangnya penyerap air alami, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrologis.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Fenomena gelondongan kayu terbawa banjir bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi cerminan kompleks dari tata kelola hutan yang rapuh. Di balik kayu-kayu yang terombang-ambing, tersembunyi jaringan kebijakan yang tumpang tindih antara hak atas tanah dan konservasi hutan. Sistem PHAT di APL seharusnya menjadi solusi, namun kenyataannya sering disalahgunakan sebagai celah legal untuk eksploitasi liar. Ini adalah paradoks kehutanan Indonesia: aturan dibuat untuk melindungi, tetapi justru menjadi alat pembenaran kerusakan.
Studi Kasus:
Kasus di Tapanuli Selatan tahun 2022 menjadi preseden penting. Saat itu, 40 hektar hutan lindung di kawasan APL ditebang secara ilegal oleh oknum yang mengaku sebagai PHAT. Kayu-kayu tersebut kemudian terbawa banjir dan ditemukan di pemukiman warga. Penyelidikan mengungkap adanya dokumen palsu yang digunakan untuk mengelabui petugas. Studi kasus ini menunjukkan betapa sistem yang seharusnya melindungi justru bisa menjadi celah korupsi lingkungan.
Infografis (Konsep):
Bayangkan diagram alur: Hutan di APL → PHAT → Izin Tebang → (Celakanya) → Dokumen Palsu → Tebang Liar → Kayu Terbawa Banjir → Dampak Sosial & Lingkungan. Diagram ini menunjukkan bagaimana izin legal bisa disalahgunakan, dan bagaimana banjir menjadi “kurir” yang mengungkap kejahatan tersembunyi.
Kerja sama lintas sektor antara Kemenhut, Polri, dan pemerintah daerah harus diperkuat untuk menghentikan praktik ilegal yang merusak ekosistem. Masyarakat perlu dilibatkan sebagai mata dan telinga di lapangan, sementara teknologi satelit harus dimanfaatkan untuk pemantauan real-time. Setiap gelondongan kayu yang terbawa banjir adalah peringatan alam yang tidak boleh diabaikan, sebab di baliknya tersimpan nasib ratusan keluarga yang bergantung pada hutan sebagai pelindung alami. Mari jadikan bencana ini sebagai momentum untuk memperbaiki tata kelola hutan, bukan sekadar menanggulangi dampaknya.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.