Akses Jalan di Tapanuli Selatan Lumpuh Total, Warga Terpaksa Gunakan Jembatan Darurat untuk Menyeberang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banjir bandang yang melanda wilayah Batang Toru, Tapanuli Selatan, mengakibatkan putusnya akses jalan utama serta jembatan penghubung. Bencana ini membuat warga terpaksa mencari alternatif lintasan darurat dengan memanfaatkan batang kayu yang disusun membentuk jembatan darurat. Warga harus menyeberang secara hati-hati melintasi jembatan seadanya tersebut untuk bisa mencapai wilayah sekitarnya.

Kondisi jembatan darurat dari kayu ini menjadi satu-satunya jalur yang tersisa setelah aliran sungai yang deras menghanyutkan infrastruktur jalan dan jembatan permanen. Masyarakat sekitar terpaksa mengandalkan jembatan darurat ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk akses ke pasar, fasilitas kesehatan, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, intensitas curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama banjir bandang di kawasan hulu Batang Toru. Wilayah ini memang dikenal rawan longsor dan banjir karena kontur tanah yang labil serta sistem drainase yang belum memadai.

Studi kasus dari bencana serupa yang terjadi di Tapanuli Selatan pada 2022 menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan membutuhkan waktu pemulihan hingga tiga bulan, dengan estimasi biaya perbaikan mencapai Rp 15 miliar. Infrastruktur yang rusak mencakup 7 jembatan kecil dan 12 kilometer ruas jalan penghubung antar desa.

Dalam konteks pencegahan, riset terbaru dari Pusat Studi Bencana Universitas Sumatera Utara (2024) merekomendasikan penguatan vegetasi riparian di sepanjang aliran sungai Batang Toru untuk menekan kecepatan aliran air saat hujan deras. Selain itu, penerapan early warning system berbasis sensor curah hujan dan ketinggian air sungai terbukti efektif mengurangi risiko korban jiwa hingga 60% di wilayah rawan banjir bandang.

Upaya mitigasi jangka panjang juga perlu melibatkan partisipasi masyarakat dalam program community-based disaster risk reduction (CBDRR), yang telah diuji coba di 15 desa di Sumatera Utara dengan tingkat keberhasilan 78% dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Ketika alam memberi ujian, kreativitas dan gotong royong menjadi jembatan terkuat yang tak bisa dihanyutkan air bah. Dari balik batang kayu yang rapuh, terpancar semangat ketahanan komunitas yang layak diteladani. Mari dukung pemulihan Tapanuli Selatan dengan peduli, berbagi, dan terus mendorong pembangunan infrastruktur yang tangguh bencana.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan