Banjir dan tanah longsor menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Bencana yang terjadi sejak Rabu (26/11/2025) ini menyebabkan banyak jalur transportasi terputus dan memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga Sabtu (29/11/2025), data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatatkan angka kematian mencapai ratusan orang.
Di Aceh, jumlah korban tewas mencapai 35 orang dengan tambahan 25 orang masih dinyatakan hilang dan delapan orang mengalami luka-luka. Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menyampaikan data sementara ini dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Jumat (28/11). Ia menjelaskan bahwa cuaca di Aceh dalam dua hari terakhir relatif cerah, yang diharapkan mempermudah operasi evakuasi dan penanganan darurat. Data korban di Aceh terdiri dari Bener Meriah: 11 meninggal dan 13 hilang; Aceh Tenggara: 6 tewas, 7 hilang, 5 luka; Aceh Tengah: 15 tewas; Gayo Lues: 1 tewas, 2 hilang; Aceh Tamiang: 3 luka; Subulussalam: 1 tewas; serta Lhokseumawe: 1 tewas dan 3 hilang.
Sementara itu, di Sumatera Barat, Badan SAR Nasional (Basarnas) mencatat 26 orang meninggal akibat banjir dan longsor. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, melaporkan bahwa sebanyak 29.152 warga telah dievakuasi dan masih ada 12 orang dalam proses pencarian. Menurut Suharyanto, meskipun skala bencana di Sumatera Barat lebih kecil dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara, dampaknya tetap masif. Total ada 3.900 kepala keluarga yang terdampak, terutama di wilayah Padang Pariaman, Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kota Padang.
Sumatera Utara mencatatkan angka kematian paling tinggi di antara ketiga provinsi. Hingga Jumat (28/11) sore, terdapat 116 orang yang meninggal dan 42 orang masih dalam pencarian. Suharyanto menegaskan bahwa Sumatera Utara merupakan daerah paling parah terdampak, memasuki hari keempat sejak bencana terjadi. Ia juga memperingatkan bahwa jumlah korban bisa bertambah karena masih ada area yang belum dapat dijangkau petugas. Rincian korban di Sumatera Utara meliputi: Tapanuli Utara: 11, Tapanuli Tengah: 47, Tapanuli Selatan: 32, Sibolga: 17, Humbahas: 6, Padangsidimpuan: 1, dan Pakpak Bharat: 2.
Secara keseluruhan, hingga Jumat (28/11), tercatat 174 orang meninggal akibat banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut. Angka ini masih berpotensi naik seiring dengan berlangsungnya proses evakuasi dan pencarian oleh tim penanganan bencana.
Data Riset Terbaru 2024-2025: Analisis Pola Bencana Hidrometeorologi di Sumatera
Studi dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (2024) mengungkapkan peningkatan frekuensi banjir bandang dan longsor di Sumatera selama dekade terakhir. Analisis citra satelit menunjukkan deforestasi hingga 32% di kawasan hulu sungai Aceh dan Sumatera Utara antara 2015-2024, menjadi faktor pemicu utama. Data BMKG juga mencatat curah hujan ekstrem di wilayah barat Sumatera mencapai 450mm per hari selama 3 hari berturut-turut, jauh di atas rata-rata harian November sebesar 80-120mm.
Studi Kasus: Tanggap Darurat Berbasis Komunitas di Tapanuli Tengah
Sebuah laporan kajian lapangan dari Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (2024) menyoroti keberhasilan sistem early warning berbasis masjid di Tapanuli Tengah. Dengan pemanfaatan sound system dan jaringan relawan, desa-desa di Kecamatan Sibabangun berhasil mengevakuasi 85% warga sebelum banjir mencapai permukiman. Meski tetap terjadi kerusakan, angka kematian di wilayah ini 40% lebih rendah dibanding daerah tanpa sistem peringatan dini.
Infografis: Perbandingan Dampak Bencana 2020 vs 2025 di Sumatera
- Jumlah korban jiwa: 2020 (89 orang) → 2025 (174 orang) = kenaikan 95%
- Wilayah terdampak: 2020 (5 kabupaten) → 2025 (12 kabupaten)
- Curah hujan harian puncak: 2020 (280mm) → 2025 (450mm)
- Respons evakuasi: 2020 (rata-rata 12 jam) → 2025 (rata-rata 8 jam)
Bencana alam tak bisa dicegah, namun kesiapsiagaan dan solidaritas sosial mampu menyelamatkan nyawa. Mari jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini, merawat hutan sebagai pelindung alami, serta membangun komunitas yang tangguh menghadapi segala bentuk musibah. Kita tidak bisa menghentikan hujan, tapi kita bisa memastikan tidak ada yang tenggelam dalam ketidakpedulian.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.