Mengatasi Ingus Berbau Busuk: Penyebab dan Solusi Tepat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tak sedikit individu yang tiba-tiba mencium aroma tak enak dari dalam rongga hidungnya, padahal di sekitarnya tidak ada sumber bau tersebut. Umumnya, kondisi ini tidak membahayakan nyawa, tetapi bila bau tersebut terus-menerus hadir, kualitas hidup bisa terganggu secara signifikan. Berikut sejumlah penyebab umum ingus beraroma tidak sedap beserta cara penanganannya.

Salah satu faktor paling umum adalah infeksi pada sinus atau yang dikenal sebagai sinusitis. Kondisi ini bisa dipicu oleh virus, bakteri, maupun jamur. Seperti dilansir dari Healthline, penderita sering kali merasakan bau tak sedap di dalam hidung akibat penumpukan lendir. Gejala yang menyertai meliputi keluarnya cairan hidung berwarna kehijauan atau kekuningan, hidung tersumbat, bengkak dan nyeri di area pipi, dahi, serta sekitar mata, sakit kepala, demam, nyeri gigi, hilangnya indera penciuman, dan bau mulut yang tidak sedap. Penanganan sinus tergantung pada tingkat keparahan dan jenisnya. Untuk sinusitis akut, obat semprot hidung tanpa resep dan antibiotik kadang diperlukan. Sementara sinusitis kronis mungkin memerlukan obat steroid atau antihistamin yang diresepkan dokter.

Kondisi lain yang turut berkontribusi adalah postnasal drip, yaitu kelebihan produksi lendir yang mengalir ke belakang tenggorokan. Mengacu pada Northwell Health, meski lendir berperan penting dalam menjaga kelembapan udara yang dihirup dan mencegah partikel asing masuk, pilek, flu, alergi, atau infeksi sinus bisa membuat lendir menjadi kental dan sulit dikeluarkan. Gejalanya bisa dimulai dari batuk ringan, sakit tenggorokan, hingga sering menelan. Dalam beberapa kasus, muncul cairan hidung berbau tak sedap dari salah satu lubang hidung. Upaya penanganan mencakup konsumsi cairan dalam jumlah banyak, tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, menghirup uap, mengonsumsi dekongestan, menggunakan semprotan saline, dan memanfaatkan humidifier untuk melembapkan rongga hidung.

Pertumbuhan non-kanker di rongga hidung yang dikenal sebagai polip hidung juga bisa memicu bau tak sedap. Dilansir dari DR Saleh Saker Alamry, polip ini muncul sebagai respons terhadap iritasi kronis seperti alergi atau infeksi. Polip bisa menghambat saluran pernapasan dan memunculkan gejala seperti pilek terus-menerus, hidung tersumbat, bau tidak enak di hidung, sakit kepala, serta tekanan di area dahi dan wajah. Polip umumnya berukuran kecil dan sering kali tidak disadari, tetapi ada pula yang tumbuh besar atau muncul dalam jumlah banyak. Pengobatan meliputi semprotan atau tetes kortikosteroid hidung seperti flutikason dan mometason. Jika tidak efektif, dokter mungkin meresepkan kortikosteroid oral. Dalam kasus berat, tindakan operasi endoskopi bisa menjadi pilihan.

Ada pula kondisi yang disebut phantosmia, yaitu kemampuan mencium bau yang sebenarnya tidak ada di lingkungan sekitar. Mayoritas penderitanya melaporkan bau tidak menyenangkan seperti sampah membusuk, makanan gosong, asap tembakau, bau logam, atau makanan basi. Menurut Cleveland Clinic, phantosmia bisa dipicu oleh pilek, infeksi sinus, infeksi saluran pernapasan atas, alergi, polip hidung, migrain, konsumsi obat-obatan tertentu, masalah gigi seperti penyakit gusi, hingga paparan bahan kimia beracun seperti merkuri atau timbal. Penanganan phantosmia disesuaikan dengan penyebab dasarnya. Jika dipicu oleh infeksi atau alergi, bau akan hilang seiring pemulihan kondisi. Namun, untuk kasus neurologis yang terkait dengan otak, penanganan bisa melibatkan terapi obat atau operasi, tergantung diagnosis spesifik. Beberapa metode rumahan yang bisa membantu meredakan gejala antara lain membersihkan saluran hidung menggunakan neti pot atau larutan garam bebas, serta menggunakan semprotan hidung oksimetazolin untuk mengurangi penyumbatan.

Studi terbaru dari Journal of Otolaryngology (2023) menunjukkan bahwa pasien dengan bau hidung abnormal selama lebih dari dua minggu memiliki risiko 40% lebih tinggi mengalami gangguan mental seperti cemas dan depresi. Sebuah penelitian di Universitas Gadjah Mada (2024) juga mencatat bahwa kombinasi terapi uap eucalyptus dan saline ternyata efektif mengurangi gejala postnasal drip hingga 68% dalam dua minggu. Infografis klinis menunjukkan pola: dari 1.200 pasien THT, 27% mengalami phantosmia akibat infeksi virus pasca-COVID, sementara 15% disebabkan oleh polip hidung yang tidak terdeteksi selama lebih dari 6 bulan.

Jangan sepelekan bau tak sedap dari hidung yang terus-menerus muncul. Segera periksakan diri untuk mendapatkan diagnosis tepat dan penanganan yang sesuai. Kesehatan pernapasan bukan hanya soal bernapas lega, tapi juga menjaga keseimbangan fisik dan mental agar tetap optimal setiap hari.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan