Penolakan Pembangunan Dapur MBG di Kota Banjar Dikenal Karena Kegagalan Komunikasi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemungutan masyarakat di Dusun Randegan, RT 11 RW 04 di Purwaharja, dianggap lebih dari sekadar protestasi terhadap pembangunan dapur MBG. Irwan Herwanto, pemerhati sosial, menilai pemerintah terlalu bersemangat pada target program nasional saja, tanpa mempertimbangkan realitanya di lapangan. “Kebijakan ini terasa terlalu idealis, seolah lupa tentang masalah konkret yang menghadapi warga,” ia mengungkapkan tanggal 12 April 2026.

Rencana pembangunan dapur pangan berkelanjutan di lokasi yang padat permukiman dianggap merusak kenyamanan. Operasional dapur yang berlangsung dari pukul 22.00 WIB hingga pagi hari berpotensi menyebabkan kehenakan dan polusi udara. Selain itu, infrastruktur seperti aliran air dan sistem pengolahan limbah masih kurang memadai, memicu kekacauan.

Resistensi masyarakat muncul sejak awal, seperti munculnya banner penolakan. Irwan menyoroti kepentingan dialog sistematis antara pemerintah dan warga, bukan sekadar pengiriman informasi. “Perencanaan tidak boleh hanya berfokus pada data teknis, tapi juga inklusi masmii yang berdampak langsung,” ia menekankan.

Aspek teknis lainnya mencakup keterbatasan jalan yang mengakibatkan kacau logistik. Transportasi bahan dan distribusi makanan melalui jalur padat berisiko meningkatkan kecelakaan. Irwan meminta Pemkot Banjar mempertimbangkan pemindahan dapur ke area pemerintah atau tempat yang lebih cocok, serta memastikan vendor pelaksana memiliki tanggung jawab sosial.

Pembangunan MBG harus seimbang antara tujuan sosial dan dampak lingkungan. Transparansi dalam proses pemilihan vendor serta partisipasi warga sejak tahap awal diperlukan. Proyek ini tidak boleh mengorbankan kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Pemerintah harus mengembangkan pendekatan yang lebih inklusif, mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat sebelum lanjutan. Prioritas utamanya harus pada kesejahteraan umum, bukan sekadar pencapaian target program nasional.

Rencananya, MBG bisa menjadi solusi untuk kebutuhan nutrisi, tetapi kesuksesannya bergantung pada kelancaran pelaksanaan. Biaya yang terlalu besar atau kurangnya pemahaman sosial akan mengubah program ini menjadi konflik. Warga harus menjadi bagian dari diskusi, bukan para pengacau.

Lebih dari sekadar dapur pangan, proyek ini mengejar keseimbangan antara kemajuan dan ketertiban sosial. Keberhasilan MBG di Randegan menegakkan pada kemampuan pemerintah memahami nuansa kesengsaraan masyarakat sebelum mempertahankan rencana.

Pemerintah harus belajar dari kesalahan ini. Program berisi yang baik tak bisa didanai jika tidak mengakomodasi realitas lapangan. Konsultasi mendalam dengan warga dan penelitian lingkungan mendalam menjadi wajib.

Pembangunan MBG bukan hanya tentang pemberian makanan, tapi juga tentang membangun kepercayaan. Jika dilakukan dengan dukungan penuh dari masyarakat, program ini bisa menjadi contoh keberhasilan sosial. Namun, jika dihadiri dengan egotisme, akan menjadi ancaman bagi harmoni masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan