Pesan WhatsApp Beredar, Seorang Pria Mengakui Membuat Klaim Sebagai Warga Terlanjar Pangandaran di Kamboja

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Sejumlah warga di Pangandaran menerima pesan WhatsApp dari Agus Hidayat (37), yang mengaku sebagai tokoh terkemuka di daerah tersebut namun tanpa dana untuk membeli tiket pulang. Pesan ini masih tidak terverifikasi oleh pihak terkait, baik sebagai permintaan dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun modus penipuan.

Dalam pesan tersebut, Agus menyebutkan dirinya berasal dari Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kab. Pangandaran. Dirinya mengungkap bahwa ia menjadi korban penipuan dari agen penyalur yang tidak bertanggung jawab. Permintaan bantuan dari Agus berupa penginapan demi kembali ke kampung asli, karena saat ini ia berada di penampungan tanpa dana untuk tiket.

“Assalamualaikum pa Abi warga Pangandaran kalipucang nyuhunken bantosan hoyong uih KA lembur teu gaduh Jang tiket Abi di Kamboja gara2 agen tak bertanggung jawab pak,” kata Agus dalam pesan singkat Jumat (10/4/2026).

Agus menjelaskan bahwa ia telah tinggal di penampungan selama tiga bulan tanpa kemampuan untuk berpergian. Sebelumnya ia mendapatkan tiket subsidi dari KBRI, tetapi tidak mampu membayar biaya tersebut. “Abi TOS lapor la KBRI. Tapi mung di panguruskn paspor sareng visa hungkul, tiket beli sendiri mkna Abi tinggal di penampungan,” ucapnya.

Menurut Agus, pihak agen tidak melengkapi visanya selama ia tinggal di penampungan, bahkan gaji dari pekerjaan yang dimaksa dilakukan di bidang scam love juga tidak terbayar. “Kerja juga dipaksa, kadang mendapat siksaan,” ucapnya.

Pernyataan Agus masih perlu diperiksa lebih lanjut. Meskipun mungkin adalah permintaan dari WNI yang terlantar, juga mungkin adalah cara penipuan untuk mendapatkan dana.

Bantuan bagi Agus harus dilakukan dengan hati-hati. Sebelum membantu, warga di Pancandaran dianjakan untuk memverifikasi identitas dan keaslian permintaan tersebut. Kasus seperti ini sering menjadi alat penipuan, sehingga kesadaran masyarakat menjadi kunci mencegahnya.

Semua warga di pangandaran diperlukan untuk menjadi pengawal. Jika ada permintaan yang mencurigakan, segera laporkan ke pihak berwenang. Kejelasan dan kesadaran adalah jaminan agar tidak menjadi korban seperti Agus.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan