Krisis di Venue Konser di Ex-Terminal Cilembang yang Masih Jadi Wacana

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya saat ini menampung paradoks menarik: dunia musiknya terus berlangsung, meski fasilitas panggung yang memadai masih sangat terbatas. Meski promosi dan musisi tetap aktif, lokasi konser tetap terperangkal, membuat kondisi semakin statis. Ruang publik seringkali dibutuhkan di tempat yang tidak sesuai standar, meskipun kreativitas tetap bergerak.

Seperti yang dilansir Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, ide pemanfaatan eks Terminal Cilembang sebagai venue konser sudah dibahas jauh sebelum ia menjadi wakil. Diky memahami kebutuhan panggung dari latar belakang musician, ia menyoroti potensi yang lama tertinggal. Meski aset milik Pemerintah, kolaborasi dengan Pemkot tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan peluang yang harus dioptimalkan.

Namun, proses pelaksanaan tetap terjebak dalam rutinitas. Meski telah berdiskusi dengan Dinas Pemuda Provinsi Jawa Barat, hasilnya masih terbatas pada harapan. Potensi eks Terminal Cilembang untuk menjadi pusat budaya atau museum masih tidak terwujud, meski telah ada rencana mengeksposi sejarah.

Kota Tasikmalaya membutuhkan keberanian untuk beralih dari dialog ke aksi. Dengan mengembangkan infrastruktur lama menjadi ruang kreatif, kota bisa mengikuti tren global pengembangan budaya. Contohnya, Jakarta telah mengubah ex-stasi menjadi lokasi musik, meningkatkan aktivitas budaya. Studi terkini menunjukkan 70% kota besar di Indonesia mencoba memanfaatkan aset lama untuk kegiatan budaya.

Kebijakan yang serius dan kerja sama lintas wilayah diperlukan. Jika dikembangkan, eks Terminal Cilembang bisa menjadi contoh inspiratif. Musisi, promosi, dan pemerintah harus saling berkoordinasi untuk memastikan potensi kreatif tidak lagi tertinggal.

Kota harus berani memulai dari sekarang, sebelum potensi lain juga hilang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan