Pertarungan dalam Culling Game Jujutsu Kaisen tidak hanya melibatkan perjuangan di antara penyihir jujutsu dan makhluk sutradara. Di balik itu, muncul konflik global yang melibatkan pemerintah dan militer dari berbagai negara. Kenjaku, sebagai arsip utama, secara sengaja memanggil kekuatan eksternal. Artikel ini meneliti apakah militer terlibat dalam Culling Game.
Jujutsu Kaisen, serial manga dan anime populer, mengucapkan perhatian dunia dengan cerita yang gelap dan aksi dinamis.故事 berpusat pada Yuji Itadori, seorang murid SMA yang tak sengaja terjerat dalam dunia kutukan setelah menelan jari makhluk tajemal yang kuat.
Pertanyaan tentang kehadiran militer dalam Culling Game diputar melalui peristiwa kunjungan Kenjaku ke negara maju. Ia memperkenalkan keberadaan energi kutukan kepada pemerintah, menjelaskan bahwa penyihir di Jepang memiliki kemampuan yang belum dipahami. Di Gedung Putih, Amerika Serikat, Kenjaku bertemu dengan pejabat tinggi seperti Presiden dan Letnan Jenderal Garry K. Johnson.
Dalam perundungan itu, Kenjaku mempresentasikan konsep energi kutukan dan menunjukkan makhluk sutradara. Ia juga memberikan rekaman kemampuan penyihir yang diasah oleh Kokichi Muta. Informasi ini mendorong pemerintah Amerika mempertimbangkan potensi energi dari penyihir.
Penyihir di Jepang dianggap minoritas dengan jumlah terbatas, tetapi militer seperti Cyrus Veil melihat itu sebagai peluang strategis. Jika penyihir tercatat hidup, energi cutumanya bisa digunakan untuk kebutuhan negara. Daripada itu, Kenjaku meminta mobilisasi mobil berani, mencabut 800 prajurit untuk memastikan pengerjaannya lancar.
Penyerangan militer bukan untuk menangkap penyihir, melainkan sebagai alat dalam rencana kompleks Kenjaku. Tujuannya adalah mengumpulkan energi cutumakan untuk ritual besar dengan Master Tengen. Energi dari peserta Culling Game belum mencukupi, sehingga militer internasional dibenarkan masuk koloni.
Ketika mereka menghadapi kematian atau ketakutan di koloni, energi cutumakan besar terliberasi. Kenjaku menggunakan situasi ini untuk memancing ribuan para militer, yang sebenarnya menjadi alat untuk menyediakan energi tambahan. Kematian mereka tidak hanya menghasilkan bahan baku untuk ritualnya, tetapi juga menggeser narasi bahwa militer sedang melindungi atau meneliti, sementara sebenarnya mereka menjadi bagian dari kalkulasi ketidaktahuan.
Strategi ini mengungkapkan bagaimana kekuatan eksternal bisa dipaksa menjadi alat penindasan. Militer, yang diyakini sedang melindungi, sebenarnya menjadi sumber daya bagi rencana yang lebih sedih. Fokus pada energi cutumakan menggeser perhatian dari ancaman langsung ke manajemen sumber daya global.
Dengan begitu, Culling Game tidak hanya menjadi pertarungan superparanormal, tetapi juga ujian etika penggunaan kekuatan militer. Kenjaku memanfaatkan keraguan dan keinginan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi, membuktikan bahwa kekuatan bisa digunakan bukan untuk keberagaman, melainkan untuk tujuan yang lebih darat.
Pernahkah kita menghindari keterlibatan militer dalam masalah superparanormal? Atau, apakah strategi seperti ini bisa menjadi meremakan dalam dunia nyata? Culling Game jadi peringatan bahwa kekuatan tak selalu berujung pada keahlian, tapi juga pada pemahaman tentang tujuan yang benar.
Baca juga Anime lainnya di Info Anime & manga terbaru.