Di Pinggir Kota Tasikmalaya, Panti ini menjadi Rumah Kedua bagi Anak-anak yang Kehilangan Arah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dalam ruang sederhana di panti asuhan Hasanah Kautsar, Tasikmalaya, anak-anak terlihat sibuk membaca atau menulis di buku. Beberapa mempaktikan prosesnya, sementara lain mencatat again kalimat yang dianggap berharga. Atmosfernya tenang, hanya terdengar suara kertas dan percakapan kecil di antara mereka.

Di meja panjang yang dikelilingi kursi, dua remaja—S (17 tahun) dan N (18 tahun)—terjadi fokus. Keduanya sering menghabiskan sore di sana setelah pulang sekolah. S telah tinggal di panti sejak 2024 dan kini kuliah di kelas XI SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. N, dari Papua, datang satu tahun kemudian dengan harapan belajar agama di kota dikenal sebagai Tasikmalaya, kota santri.

Rutinitas mulai dari pagi. Mereka menjalani salat berjamaah, tugas kebersihan, lalu belajar bersama dan menulis jurnal sebelum tidur. Jurnal ini mungkin terlihat sederhana, namun bagi sebagian, ini merupakan cara pertama untuk memahami diri sendiri—mengurai perasaan yang lama tersimpan.

Panti ini mengasuh 12 anak, 7 perempuan dan 5 laki-laki, umur 13 hingga 20 tahun. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, membawa cerita hidup yang tidak selalu mudah dibicara.

Pengurus panti, Tazkiyah Firdausi, menjelaskan proses penerimaan tidak tiba-tiba. Calon anak harus menjalani proses administrasi, wawancara, pengobatan kesehatan, dan evaluasi psikologis. Namun, tantangannya terbesar muncul setelah anak tinggal. Setiap anak datang dengan ceritanya sendiri—ada yang kehilangan orang tua, mengalami kekerasan, atau hidup lama tanpa perhatian.

Saat N pertama kali datang, ia sedikit bicara, sering merasa takut dan tidak tertarik disentuh. Tazkiyah pernah mendampinginya selama proses adaptasi.

Rutinitas mereka mencerminkan keberanian. Meskipun dari latar belakang sulit, mereka belajar berdagang, menulis, dan berbagi pengalaman. Jurnal harian yang mereka tulis bukan hanya soal akademik, tapi juga tentang emosi, harapan, dan ketidakpastian.

Panti ini menjadi ruang untuk menyelamatkan anak-anak yang mungkin tidak memiliki kesempatan lain. Dengan pendekatan yang personal, mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menguatkan daya tahan hati.

Setiap cerita anak adalah tambahan untuk masyarakat, mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang penguatan jiwa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan