Viman Sentil Kadiskominfo Kota Tasikmalaya: Jangan Bangun Rumah Digital Karena Isinya Kosong

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Thecuy.com — Pemimpin kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, memberikan kritik tajam kepada kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) baru. Ia menekankan bahwa pembangunan digitalisasi pemerintahan harus fokus pada dampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya terlihat modern secara teoretis. Peringatan ini diberikan saat membuka Musrenbang Sektoral Diskominfo di Tasikmalaya.

Viman mengingatkan bahwa pembangunan sistem digital seperti membangun rumah. Fondasi harus kokoh, semua elemen seperti mangkuk atau gelas harus sesuai sebelum menambahkan isi. “Kalau botol 500 cc tapi diisi 200 cc, hasilnya kurang bermanfaat. Kalau kebanyakan juga malah tumpah ke mana-mana,” ia perkirakan dengan nada sarkas.

Diskominfo baru, yang masih muda dan dulu bekerja sebagai pejabat internal, perlu perhatian. Viman menyiratkan proses perencanaan digital sering tidak seimbang. Contohnya, sistem yang terlalu besar atau kecil untuk aplikasi tertentu. “Perencanaan harus realistis, bukan sekadar mengikuti tren teknologi,” ujarnya.

Dengan alasan strategis, Viman menekankan peran Diskominfo dalam reformasi birokrasi dan pelayanan publik. Diskominfo harus menjadi corong pemerintah yang baik dalam menyampaikan kinerja. “Kalau Kominfo tidak bisa menjelaskan apa yang dilakukan pemerintah, publik akan merasa tidak percaya,” ia pandang.

Kritik Viman juga menyentuh isu komunikasi publik yang sering diabaikan. Diskominfo harus mampu mengekspresikan kelayakan pemerintah secara transparan. Hal ini penting untuk mencegah persepsi negatif masyarakat.

Pemikiran Viman ini menjadi alarm bagi Diskominfo yang baru diangkat. Kepala dinas harus memastikan bahwa digitalisasi tidak menjadi jargon atau proyek teknologi tanpa manfaat nyata. Fokus harus pada keseimbangan antara kapasitas sistem dan program yang dijalankan.

Analisis Tambahan: Tren digitalisasi pemerintahan di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penguapan. Banyak daerah menyelenggarakan proyek teknologi tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat lokal. Contohnya, aplikasi digital untuk layanan publik sering dibuat kompleks, sehingga tidak terusage oleh masyarakat yang tidak terpadu dengan teknologi. Studi kasus ini menunjukkan pentingnya kesesuaian teknologi dengan konteks sosial.

Infografis: Tren Digitalisasi Berhasil di Provinsi X (contoh: peningkatan layanan e-sekolah atau e-procurement yang dipicu oleh pelaksanaan sistem digital yang sesuai dengan kebutuhan publik).

Tegak penting, Viman menegaskan bahwa digitalisasi harus menjadi solusi praktis, bukan sekadar gambaran. Kota Tasikmalaya bisa menjadi contoh jika Diskominfo memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pelayanan seperti pendaftaran di kantor atau penyaluran informasi pemerintah.

Pemerintah harus mengingat bahwa teknologi adalah alat, bukan tujuan. Kesuksesan digitalisasi terletak pada kemampuan memecahkan masalah masyarakat, bukan jumlah aplikasi atau sistem yang diciptakan. Kolaborasi antara Diskominfo dan warga menjadi kunci agar inovasi teknologi benar-benar mengubah hidup.

Pendekatan Viman mengingatkan bahwa reformasi birokrasi tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kesadaran dan responsivitas terhadap kebutuhan publik. Diskominfo harus berperan aktif dalam membangun vertro dengan masyarakat, bukan hanya sebagai penyedia infrastruktur digital.

Pemikiran ini memotivasi kita untuk melihat digitalisasi bukan sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai proses transformasi sosial yang harus diwujudkan melalui kesesuaian dan keinginan masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan