SOP MBG harus dievaluasi, Pemkab Tasikmalaya mengingatkan suplier untuk memenuhi standar BPOM

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tujuh SPPG di Jawa Barat dilarang beroperasi sementara setelah pekan lalu. Di antaranya, SPPG Cipancur Sirnasari di Sariwangi, SPPG Bandung Soreang Cingcin 2, SPPG Bandung Soreang Pagaden Kamarung 1, SPPG Garut Cibatu Padasuka, SPPG Subang Kalijati Timur 2, SPPG Subang Pagaden Kamarung 1, serta SPPG Garut Cibatu Padasuka 2. Secara nasional, jumlah SPPG yang ditutup mencapai 43 unit. Dua unit berasal dari Banten, satu dari Jakarta, tujuh dari Jawa Barat, tiga dari Jawa Tengah, 17 dari Jawa Timur, dua dari Kalimantan Barat, satu dari Kalimantan Timur, dan dua dari Kalimantan Tengah.

Pemimpin Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan, penutupan sementara bertujuan memastikan kualitas dan keamanan layanan. Jika dapur MBG memenuhi standar kembali, operasinya akan kembali berlangsung. Penyebab penutupan di SPPG Cipancur Sirnasari adalah temuan roti abon berjamur pada menu makanan bulan Ramadan. Hal ini dipicu oleh pengaduan, sehingga dikeluarkan SP-1. Dapur tersebut dilarang beroperasi selama tujuh hari sebelum evaluasi kembali.

Ketua Komisi IV DPRD Tasikmalaya, Asep Saepuloh, menekankan perlunya evaluasi menyeluruh. “Apakah dapur MBG memenuhi regulasi? Ini harus diwujudkan. Kepatuhan terhadap SOP harus ketat,” ujarnya. Asep warnai, jika SPPG melanggar protokol, tidak boleh dikembalikan karena melibatkan kualitas gizi.

Asep juga terutang, pelanggaran SOP bisa memicu korbanan. “Penghasilan menu MBG yang tidak memenuhi standar bisa merusak kebiasaan masyarakat,” kata ia. BGN dianggap benar-benar bertindak dengan pas untuk memenuhi tanggung jawab.

Langkah ini menjadi peringatan bagi semua pihak. Keamanan gizi bukan hanya pertanggungjawaban SPPG, tetapi kebutuhan kolektif untuk menciptakan lingkungan sehat. Kita harus lebih cermat dalam memantau kualitas layanan. Semakin ketat pelaksanaan ketentuan, semakin menjaga kepercayaan masyarakat.

Dari hal ini, kesadaran bersama sangat penting. Setiap orang harus memahami nilai gizi dan dampak lingkungan. Jika kita semua berpartisipasi, standar kualitas bisa terus diwujudkan tanpa gangguan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan