Remaja dari Tawang Banteng, Tasikmalaya, menggunakan kuli angkut pasir untuk tetap makan dan sekolah dengan tiga adik.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Riswan, seorang remaja dari Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, kabupaten Tasikmalaya, menjadi pusat perhatian multimedia karena gaya hidupnya yang penuh ketangguhan. Meskipun usia yang seharusnya tetap di sekolah dan bermain dengan teman, ia harus menjaga tugas utama keluarga sebagai penanggung jawab. Setiap hari, riswan bekerja sebagai kuli pasir, mengangkut material berat demi menyoluti kebutuhan tiga adik kecilnya. Keputusan ini muncul setelah kedua orang tua pergi dunia, meninggalkan tanggung jawab penuh pada anak yang masih muda.

Dengan penghasilan hanya sekitar Rp30 ribu tiap hari, riswan memadukan dukungan kebutuhan pokok keluarga serta memastikan adik-adiknya bisa belajar. Keputusan ini membuatnya tidak bisa fokus pada pendidikan, karena setiap hari ia harus memenuhi kebutuhan pokok dengan kerja fisik berat. Makanan seringkali hanya nasi tanpa lauk, karena uang hasil pekerjaan harus diprioritaskan untuk keperluan lain.

Kisah riswan semakin menyentuh hati ketika diketahui adik-adiknya pernah kaget setelah ditinggalkan oleh keluarga. Tanpa tempat tinggal, mereka beberapa waktu berbulu-bulu mencari tempat berteduh. Namun, dengan dukungan warga sekitar melalui gotong royong, mereka dapat menyediakan gubuk sederhana sebagai tempat tidur.

Meskipun dalam kondisi keterbatasan, riswan tetap berkelanjutan. Ia mengakui akan terus bekerja keras demi masa depan adik-adiknya, dengan harapan mereka bisa belajar dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Kisah riswan mengingatkan bahwa kekuatan jiwa dan dukungan masyarakat bisa menjadi solusi terhadap kesulitan.

Setiap hari, riswan menunjukkan keteguhan dengan tidak tergesa-gesa. Adik-adiknya tetap bisa belajar meskipun kondisi sulit. Waktu siang ia mengangkut pasir, siang hari mungkin dia duduk di gubuk yang disediakan, hanya untuk memasuki kelas. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mendukung anak-anak yang mengalami ketidakadilan.

Waktu siang, riswan fokus pada pekerjaan, sementara siang hari ia mengisi waktu dengan belajar di gubuk. Meskipun kondisi tidak ideal, ia tetap berusaha memenuhi tanggung jawab. Dua hal utama dalam hati riswan adalah adik-adiknya bisa belajar dan punya masa depan yang lebih baik.

Setiap usia, riswan menunjukkan bahwa kerja keras dan ketangguhan bisa menjadi kunci untuk mengatasi kesulitan. Meski uangnya terbatas, ia terus berusaha memberikan kesempatan yang lebih baik bagi adik-adiknya. Kisah riswan membuka pandangan bahwa setiap orang bisa menjadi pemuda yang berdampak positif, bahkan dari latar belakang terpinggirian.

Riswan tidak pernah menyerah. Meskipun kondisi sulit, ia tetap berusaha mendukung keluarga. Setiap gigit pasir atau langkah yang ia ambil adalah tanda bahwa ia tidak ingin adik-adiknya memikul beban kesulitan. Kisah riswan menjadi pengingat bahwa ketangguhan bisa mengubah realita, jika didukung oleh dukungan orang lain.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan