Kota Banjar Menganggarkan Anggaran Penanganan Sampah Rp 0 untuk 2026

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar terus berupaya mengelola sampah. Kota Banjar telah mendapatkan predikat kota bersih tingkat nasional pada tahun 2025.

Asep Tatang Iskandar, Kepala DLH, melacak inovasi pengelolaan sampah melalui Kabid Pengelolaan Sampah Uun Maryonah. Inovasi ini bernama Pamor Berbi.

Pamor Berbi merujuk pada pengujian sampah organik secara berkelanjutan dengan proses biokonversi. Inovasi ini dikembangkan untuk mengurangi sampah organik yang dihasilkan masyarakat.

Sampah organik yang dijemput oleh petugas tidak bersalah biaya. Hasil pengolahan kemudian disajikan menjadi pakan ternak atau kompos.

Sistem ini berdampak mengurangi limbah organik dari rumah-rumah masyarakat hingga instansi lain yang menghasilkan sampah.

Anggaran pengelolaan sampah tahun 2026 sepenuhnya nol. Hanya diberikan dana untuk biaya pengangkutan sampah (BBM).

Sebelumnya, anggaran mencapai Rp430 juta digunakan untuk peralatan dan perawatan TPS. Tahun ini, anggaran hanya untuk BBM.

Untuk penanganan sampah di TPA, dana Rp420 juta digunakan untuk tanah urug, pengumpan gas metan, serta pendampingan bau.

Ketika sampah dibuang ke TPA biasanya mencapai 49-50 ton per hari. Sekarang, jumlahnya turun hingga 44 ton per hari.

Petugas menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah di sumbernya. Edukasi terus diberikan melalui kegiatan masyarakat atau sekolah.

Kegiatan edukasi di sekolah mengajak anak-anak untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pemberian pengetahuan sejak dini diharapkan menciptakan kebiasaan positif.

Perubahan perilaku masyarakat memang sulit. Namun, jika anak-anak menjadi pendamping, kebiasaan memilah sampah akan terjun secara berkelanjutan.

Pomor Berbi menjadi solusi inovatif untuk mengelola sampah di Banjar. Kekurangan sampah organik ini berdampak signifikan.

Kerjasama masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga lingkungan terluas. Keterampilan memilah sampah di rumah juga menjadi langkah awal perubahan.

Inovasi ini menunjukkan potensi teknologi yang bisa dikembangkan di kota-kota lain. Proses konversi sampah organik menjadi bahan berguna menjadi solusi praktis.

Dampak lingkungan yang positif dari Pamor Berbi bisa menjadi referensi untuk daerah lain. Langkah ini membuka pintu untuk pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Setiap individu bisa berkontribusi dengan mengejar kebersihan lingkungan. Keputusan kecil setiap hari bisa menciptakan perubahan besar.

Kecerdasan masyarakat dalam mengelola sampah menjadi kunci keberhasilan. Edukasi dan inovasi harus terus berjalan berdampingan.

Kehidupan terlalu berharga untuk dikendalikan sampah sembarangan. InovasiPamor Berbi membuktikan bahwa solusi bisa ditemukan dengan kerja sama.

Ranah sampah organik harus menjadi bagian dari strategi kebersihan. Proses konversi ini mengubah masalah menjadi solusi.

Perubahan yang terjadi di Banjar membuktikan bahwa inovasi bisa berdampak. Kita bisa mengikuti contoh ini untuk merancang solusi di daerah kita.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan