Mahasiswa Dipertanyakan Predikat "Menuju Kota Bersih Tingkat Nasional" di Kota Banjar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Penggandaan GMNI Banjar menolak penghargaan ‘Menuju Kota Bersih Nasional 2025’ yang diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup. Kepala organisasi menyatakan bahwa penghargaan ini tidak mencerminkan kenyamanan sebenarnya dalam pengelolaan sampah di kota. Septian Lestari, Kepala GMNI Banjar, menekankan bahwa Banjar masih dalam proses transformasi, dengan banyak masalah mendasar yang belum teratasi.

Dengan kata lain, sertifikat ‘kota bersih’ menjadi simbol yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas lapangan. Aktivis mengungkapkan bahwa infrastruktur pengangkutan sampah masih memikul, budaya pemilahan sampah tidak optimal, dan data pengolahan akhir tidak transparan. “Jika hanya fokus pada penyesuaian wajah luar kota, tanpa memperbaiki sistem di belakang, ini hanya menjadi penyesuaian kosmetik,” tegas Lestari.

Sementara itu, GMNI Banjar mengkritik kecepatan pemerintah merayakan prestasi administrasi tanpa memperhatikan pembenahan struktural yang lama. Mereka meminta data konkret seperti persentase pengurangan sampah, jumlah armada yang beroperasi secara efektif, dan standar pengolahan akhir yang diaplikasikan. Transparan menjadi kunci agar penghargaan tidak dianggap sebagai alat legitimasi politik.

Lingkungan hidup bukan sekadar panggung pencitraan, sebagaimana yang diyakini oleh GMNI. Peran masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan perubahan berkelanjutan harus diwujudkan dengan tindakan konkret, bukan hanya dengan ceremoni atau narasi.

Lapangan menunjukkan persoalan sampah di Banjar tidak hanya tentang logistik, tetapi juga tentang kesadaran dan komitmen. Tanpa perubahan fundamental, prestasi administrasi pun akan tetap menjadi gambaran yang tidak berdasar. GMNI menuntuk pemerintah untuk membuka data secara terbuka, memprioritaskan solusi struktural, dan mengembangkan budaya ekologis di masyarakat.

Semakin dalam, tantangan Banjar menjadi ujian bagi pemerintah dalam menciptakan kota yang benar-benar bersih. Keberhasilan tidak dapat diukur hanya melalui penghargaan, tetapi melalui kemajuan nyata dalam pengelolaan lingkungan. Transformasi seperti ini memerlukan kerja sama, transparansi, dan komitmen tanpa kompromi dari semua pihak.

Setiap kota memiliki potensi untuk menjadi contoh di latar belakang perencanaan dan eksekusi yang tepat. Banjar harus menjadi pelopor transformasi yang benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar simbol yang cepat terlupakan. Perubahan harus dimulai dari titik awal, dengan fokus pada solusi yang berkelanjutan dan inklusif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan