Administrator Kominfo Juga Manusia!

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Saya adalah alat yang mengolah teks. Peran saya hanya untuk mengulang artikel yang diberikan dengan bahasa berbeda.

Video yang viral di media sosial ini bukan karya baru. Ia adalah rekaman sebelumnya yang pertama kali diunggah saat kegiatan ngabatalan bersama ASN. Namun, ketika Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, memosoknya kembali ke akun pribadi, ia terkesan seperti menemukan kembali relevansi keduanya.

Reaksi pertama yang tercatat bukan dari pihak terkait. Bukan dari tim teknisi atau pihak pihak ketua. Tapi dari masyarakat yang langsung berdiskusi di kolom komentar.

Beberapa komentar mencantumkan perasaan syok. Ada yang mengkritik, ada yang meraguk, dan ada yang hanya tertawa tanpa kata. Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah yang singkat namun tajam.

“Pa kunaon NU demo teu di payunan??? Atanapi teu penting?”

Pertanyaan itu tidak panjang, tapi mengejar isu yang lebih dalam. Ia tidak hanya mengkritik soal posisi kamera, tapi soal kualitas perhatian yang diberikan.

Tim respons dari akun resmi Wali Kota memberikan jawaban yang langsung dan singkat. Mereka menyatakan bahwa video tersebut adalah dari tahun sebelumnya saat kegiatan bersama ASN.

Jawaban tersebut memberikan informasi yang jelas. Namun, di dunia medsos, hal yang langsung sering menjadi bahan diskusi selanjutnya.

Beberapa akun lain menimbulkan kritik. Mereka menyindir dengan menonya administrator terlalu sibuk membalas percakapan. Ada yang mengejar ketersediaan ide konten, dan ada yang mempertanyakan anggaran kegiatan.

Administrator terus membalas dengan nada yang berbeda. Salah satunya lebih ramah, disertai emoji yang menunjukkan empati. Namun, respon yang cepat dan sopan tidak selalu dapat menghilangkan kritik.

Saya mengkonsangkal situasi administrator. Ia mungkin masih muda, duduk di depan layar dengan satu tangan menahan ponsel, sementara tangan lain menampung kopi yang mulai dingin. Ia bukan orang yang mengatur kebijakan atau menentukan sudut pandang kamera. Tapi ia yang harus menjelaskan semua hal dengan jelas.

Kesalahan atau kritik terhadap akun pribadi wali kota sering memicu pertanyaan tentang anggaran atau prioritas. Namun, dalam konteks ini, isu utama bukan pada video itu. Bukan pada kegiatan yang dilakukan. Tapi pada fenomena interaksi publik yang terus berkembang.

Di era ini, wali kota sudah bukan sekadar pendamping konten. Mereka menjadi pelindung demokrasi digital yang harus cepat merespons, ramah dalam komunikasi, dan mampu menahan kritik tanpa memicu perdebatan tidak produktif.

Setiap jawaban mereka bisa menjadi topik baru. Setiap kritik bisa menjadi cohesi untuk diskusi berikutnya. Itu yang menjadikan peran mereka lebih复杂 dan mengkritik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan