Pangandaran Tidak Bisa Mengeluarkan Kuota Transmigrasi Tahun 2026

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

PANGANDARAN, Thecuy.com–Kabupaten Pangandaran saat ini tidak mendapatkanallocasi kuota transmigrasi dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Program ini, yang secara resmi dapat diawali oleh lembaga pusat, tidak berlangsung di tahun 2026 ini.

Tatik, Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Kerja, Transmigrasi, dan Pelatihan Produktivitas Disnaker, menyatakan bahwa kuota transmigrasi yang diberikan pada Kabupaten Pangandaran dalam tahun ke-2026 sebesar nol. “Biasanya, kami melakukan pendataan dulu jumlah warga yang berminat. Namun, dalam hal ini, kuotanya tidak ada,” kata ia dalam undangan untuk Radar Kamis (19/2/2026).

Meskipun demikian, Tatik menjelaskan kemungkinan kuota tetap bisa diberikan secara mendadak oleh pemerintah pusat, tergantung kebijakan dan minat masyarakat. “Kadang, pembenaran dari pusat tetap belum jelas. Kami tetap berharap dukungan dari pusat dan penuh minat masyarakat,” ujarnya.

Wilayah yang hingga kini menjadi fokus transmigrasi di Pangandaran terletak di Kecamatan Padaherang. Masyarakat berminat biasanya berasal dari daerah yang kekerasan pekerjaan terbatas. Kecamatan Padaherang dikenal karena jumlah penduduk yang signifikan. “Program transmigrasi umumnya ditujukan untuk daerah padat. Di Pantangar, masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tertarik sering bergabung karena dapat ditawarkan lahan untuk dikembangkan,” menjelaskan Tatik.

Menurut data Dinas Ketenagakerjaan, partisipasi transmigrasi juga memengaruhi penurunan tingkat pengangguran di daerah. “Setiap warga yang berangkat melalui transmigrasi, data pengangguran kami akan berkurang secara otomatis,” kata Tatik.

Pertama kali, transmigran dari Pangandaran dipasangkan pada tahun 2018 dan dikirim ke Sulawesi. Sejak saat itu, tidak ada lagi pengiriman peserta dari wilayah ini. Tatik juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan evaluasi terhadap warga transmigran yang telah pulang belum dilakukan karena keterbatasan anggaran.

Analisis dan Perspektif: Keterbatasan kuota transmigrasi ini memungkinkan kesenjangan pengembangan ekonomi di Pantangar. Di era digitalisasi yang pesat, pemerintah atau lembaga lokal bisa mengeksplorasi alternatif seperti pengembangan industri kecil, wisata lokal, atau pelatihan keahlian yang relevan dengan pasar kerja global.

Penutup: Meski program transmigrasi tidak bisa berjalan sepenuhnya, masyarakat Pantangar tetap memiliki potensi untuk mengakomodasi diri melalui inovasi. Kita mengajak warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan lokal dengan mengeksploitasi kekuatan tradisional dan modern. Moda hidup yang lebih berkelanjutan tidak hanya bisa mengurangi penurunan pekerjaan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan