Kontroversi Ucapan Penerima LPDP terkait ‘Cukup Saya WNI, Anak Jangan’

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Kontroversi muncul setelah pernyataan seorang alumni LPDP yang mengungkapkan, “saya WNI, jangan anak,” yang viral di platform media sosial. Kata itu menimbulkan reaksi keras dan diskusi publik karena dianggap bertentangan dengan nilai nasionalisme, terutama karena beasiswa LPDP didanai dari dana negara.

Video tersebut diunggah oleh seorang wanita yang mengoperasikan akun Instagram @sasetyaningtyas. Dalam video, ia membuka paket yang diwujudkan, berisi surat resmi dari Home Office Inggris. Surat tersebut menyatakan bahwa putrinya kedua kini menjadi warga negara Inggris. Dirahmatinya juga paruh paspor Inggris yang seiring datang.

“Ini bukan sekadar paket biasa, isinya dokumen penting yang mengubah nafis dan masa depan anak-anak,” menjelajahi. “Surat ini menyatakan resmi bahwa putri kedua saya telah diterima sebagai warga Inggris,” penjelasnya.

Alumni tersebut kemudian mengungkapkan bahwa keluarga akan dipaksa memiliki kewarganegaraan asing. “Saya sadar dunia tidak adil, tapi cukup saya sendiri yang WNI, jangan anak-anak. Kita harus usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA,” ujarnya.

LPDP Respon Kontroversi
Dalam posting Instagram @lpdp_ri, LPDP menyampaikan penyesalannya atas kritik yang muncul. LPDP menyatakan bahwa tindakan alumni DS tidak mencerminkan nilai integritas yang ditanamkan pada penerima beasiswa.

“LPDP menyadahi terjadinya konflik di media sosial yang dipicu oleh alumni DS. Tindakan tersebut tidak sesuai dengan etika dan profesionalisme yang kami hargai,” tulis LPDP.

LPDP mengungkapkan bahwa pasangan DS, juga awardee LPDP, diduga belum menyelesaikan pengabdian di Indonesia. Saat ini, pasangannya menetap di Inggris.

“Setelah dua tahun studi, kewajiban pengabdian adalah lima tahun,” menjelaskan LPDP. “Saudara DS telah menyelesaikan S2 pada Agustus 2017 dan memenuhi semua ketentuan, sehingga LPDP tidak lagi memiliki hubungan hukum dengan pihaknya.”

LPDP akan berkomunikasi dengan DS untuk memadukan dan meminta penuhnya atas pernyataan yang tidak bijak.

Analisis Dan Perspektif
Pengungapan DS mengkristalkan perdebatan tentang tanggung jawab warga negara. Beasiswa seperti LPDP bukan hanya-duanya memberi dana, tetapi juga mengharapkan kontribusi sosial. Tindakan alumni ini memicu ketegangan karena dianggap melanggar nilai yang dimiliki.

Pemikiran baru: Di era digital, social media menjadi alat yang bisa memperkuat atau merusak gambaran institusi. LPDP mungkin perlu memperkuat edukasi nilai-nilai patriotisme bagi alumni.

Penutup
Masalah ini mengingatkan kita bahwa kewarganegaraan bukan hanya dokumen hukum, tetapi juga keinginan membina. Ulangi nilai-nilai bangsa bukan hanya dalam kata-kata, tapi juga dalam tindakan sehari-hari. Semoga kontroversi ini menjadi peluang untuk memperkuat konsensus dalam menjaga keberanian bangsa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan