Banjir Masih Bernerus, 19.408 Keluarga Dipadang di Bekasi Jalani Puasa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Di Kabupaten Bekasi, 19.408 Kepala Keluarga (KK) dipaksa menghadapi bulan puasa akibat genangan yang meluas. Banjir disebabkan hujan berkepanjangan sejak kemarin malam. Muchlis, Kepala Penanggulangan Bencana Daerah, menjelaskan genangan merajai hingga memengaruhi 19 ribu KK lebih. Pada siang tadi, 17 ribu KK terdampak, sementara malam ini peningkatan ini menjadi lebih dramatis.

Genangan air menyebar di 75 titik di berbagai desa dan kecamatan. Dari 19.408 KK terpaku, 94 KK atau 376 jiwa terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam dan akses lingkungan terputus. Tim masih melakukan pendataan lanjutan. Evakuasi serta distribusi bantuan logistik sudah dilakukan di beberapa lokasi.

Wilayah Kecamatan Babelan menjadi pusat banjir. Genangan dengan Tinggi Muka Air (TMA) 20-40 cm merendam desa seperti Hurip Jaya, Muarabakti, dan Buni Bakti. Di Kelurahan Kebalen, longsor terjadi di dua titik permukiman. Di Kecamatan Tambun Utara, banjir dengan TMA 30-100 cm memengaruhi desa seperti Satriajaya dan Srijaya.

Banjir juga merendam desa di Cikarang Utara dengan TMA 50-170 cm. Akses jalan lingkungan terputus, memaksa warga mengungsi. Di Kelurahan Wanasari, Karangraharja, dan Sarimukti, genangan merendam. Angin puting beliung juga dilaporkan di desa seperti Srimukti.

Pengungsian dilakukan di Kantor Kecamatan Tambun Utara dan dua titik di Karangraharja. Total pengungsian mencapai 376 jiwa. Selain permukiman, 1.026 hektare lahan pertanian terdampak, memungkinkan gangguan produksi pangan. BPBD, TNI-Polri, dan organisasi lain berkoordinasi untuk evakuasi, pendirian tenda, dan distribusi makanan, air, dan kebutuhan dasar.

Keselamatan warga, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, menjadi prioritas. Dodi Supriadi, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD, menyoroti pengawasan 24 jam karena potensi genangan meningkat. Distribusi logistik fokus pada kebutuhan mendesak, termasuk dapur umum yang diaktifkan di genangan.

Banjir mempersembahkan tantangan besar bagi masyarakat. Hukum alam tidak bisa diabaikan. Semua warga diminta berkecepatan berani memproses dan menghadapi situasi ini bersama, agar kemandirian dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan