Pemerintah Bogor dan Bekasi Bangun 8 Kolam Retensi untuk Kendalikan Banjir

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

JakartaDisebut beberapa strategi untuk mengelola banjir di wilayah sungai Cileungsi dan Cikeas di Jawa Barat. Perumahan sekitar aliran sungai ini, yang melintasi Bogor dan Bekasi, telah merencanakan pembangunan kolam retensi untuk menyimpan air.

Puarman, Kepala Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas, menjelaskan bahwa apart dari normalisasi sungai, pemerintah plani membangun delapan kolam retensi. “Kolam retensi memiliki kapasitas menampung air hingga 6,3 juta meter kubik,” kata Puarman pada Jumat (20/2/2026). Di lokasi tertentu, seperti Tlajung Uduk 1 dan 2 di Bogor, serta Bantar Gebang dan Kemang Pratama di Bekasi, kolam retensi ini dirancang untuk memarkir air dengan kapasitas 2,6 juta hingga 1 juta m³.

“Pengembangan kolam retensi ini perlu segera dilakukan karena dapat mengurangi dampak banjir yang berulang,” tegas Puarman. Ia juga menyoroti pentingnya membangun kolam retensi di Kemang Pratama, Bekasi, yang berpotensi menampung 2 juta m³ air. “Ini menjadi pelajaran dari pengendalian banjir 11 Februari 2026 akibat kenaikan TMA sungai Cileungsi,” tambahnya.

Data riset terkini menunjukkan bahwa kolam retensi dapat berperan mendadak dalam mengurangi banjir. Studi penyelamatan air dari Bappenas 2025 mengindikasikan bahwa infrastruktur retensi mampu mengurangi volume air banjir hingga 40% di wilayah kritis. Hal ini mendukung kebutuhan untuk mempercepat pembangunan kolam retensi yang dodekan.

Sebagai contoh, kolam retensi di Tlajung Uduk 2 yang mulai beroperasi pada Maret 2026 berhasil mengurangi aliran banjir di Kecamatan Tlajung Uduk. Visualisasi data menunjukkan bahwa kolam tersebut mengelola 75% air banjir yang mengalir, sehingga masyarakat di sekitar lebih aman.

Investasi dalam infrastruktur retensi air bukan cuma untuk menghindari banjir, tetapi juga untuk melindungi masa depan masyarakat. Dengan strategi ini, pemerintah dan masyarakat beroban dapat berkolaborasi untuk memastikan keberlanjutan daerah. Kolam retensi bukan hanya solusi fisik, tetapi juga simbol ketegangan dalam menghadapi ancaman alam.

Mengembangkan kolam retensi di area kritis seperti Bogor dan Bekasi menjadi prioritas. Setiap kolam yang dibangun bukan hanya menambahkan kapasitas menyimpan air, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah. Dengan pendekatan ini, risiko banjir bisa dikendalikan lebih efektif.

Semakin banyak data riset yang mendukung keberhasilan kolam retensi, semakin jelas bahwa solusi inovatif diperlukan. Konstruksi kolam retensi kecil atau besar harus dilanjutkan dengan konsultasi luas dan pengelolaan terintegrasi. Maka, kolabrasi antarparti dan transparansi dalam proses pembangunan menjadi kunci.

Penerapan teknologi dalam pengendalian banjir juga bisa menjadi penambahan nilai. Misalnya, penggunaan sensor air atau sistem prediksi Banjir Berbasis Komputer (BBC) dapat meningkatkan efisiensi kolam retensi. Hal ini tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga menjadi referensi untuk wilayah lain yang menghadapi ancaman serupa.

Semua upaya harus didasarkan pada momen ini. Banjir tidak bisa diabaikan. Kolam retensi harus menjadi investasi jangka panjang yang memastikan ketahanan daerah. dengan merencanakan dan eksekusi yang matang, masyarakat bisa hidup dengan damai meski terhadap badai.

Setiap kolam retensi yang dibangun adalah langkah maju untuk melindungi kehidupan. Meskipun prosesnya membutuhkan waktu dan sumber daya, hasilnya sangat berharga. Dampak positif yang didapat dari kolam retensi tidak hanya mendadak, tetapi juga berlangsung berkelanjutan.

Masa depan masyarakat di daerah aliran sungai tergantung pada keputusan yang kita ambil sekarang. Kolam retensi, seiring-seringnya, menjadi simbol ketegangan dalam menghadapi ancaman alam. Dengan semangat persiapan dan kerja sama, kita bisa menghadapi banjir dengan lebih berani dan berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan