Ortu-Ortu di China Antre ‘Pasar Jodoh’ untuk Cari Pasangan untuk Anak

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

JAKARTA – Setiap akhir pekan, satu sudut di Taman Rakyat Shanghai menjadi lokasi utama untuk orang tua yang menyiapkan perencanaan pasangan bagi anak mereka. Mereka membawa dokumen dan detail seperti umur, pekerjaan, dan kondisi fisik anak, yang disajikan di payung, tas, atau letakkan di lantai. Beberapa anak bahkan tidak menyadari informasi tersebut sudah terkirim.

Fenomena ini dikenal sebagai “pasar jodoh” atau pasar pasangan, yang berlangsung selama dua dekade terakhir. Di sini tidak hanya orang tua yang ikut, tetapi juga agen perjodohan dan individu dari berbagai usia.

Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran nasional terkait penurunan jumlah pernikahan dan kehidupan di China. Data terbaru menunjukkan bahwa 2025 mencatat 6,76 juta pernikahan, meningkat 10,8% dibandingkan 2024, yang juga menjadi rekor terendah. Namun, angka ini masih hanya setengah dari 12,25 juta pernikahan yang tercatat pada 2015, setelah penurunan selama satu dekade.

Beberapa orang tua di Taman Rakyat menjadi tokoh yang dikenal. Sebelumnya, mereka mencari pasangan untuk putrinya, kini mereka membantu orang lain memahami pembagian area seperti untuk lajang muda, lajang tua, atau yang pernah belajar di luar negeri.

Menurut seorang pria berusia lebih lanjut, generasi muda memiliki pandangan berbeda. Mereka lebih independen karena tidak memiliki “aset” keluarga seperti saudara, yang memengaruhi kompleksitas pernikahan saat ini.

Pemerintah China telah mengatasi aturan lama yang mewajibkan pencatatan di kampung halaman. sejak Mei 2025, pasangan dapat mendaftarkan pernikahan di mana saja. Beberapa provinsi juga memberikan cuti menikah hingga satu bulan dan insentif finansial.

Namun, peningkatan angka pernikahan mungkin tidak berkelanjutan. Faktor seperti pengangguran, biaya hidup mahal, dan tekanan karier masih menjadi penghalang. Eksper dari Hong Kong University of Science and Technology, Stuart Gietel-Basten, memeringatkan bahwa kebijakan pernikahan bukan solusi mutlak.

Kesimpatan dari data ini adalah bahwa struktur sosial, pekerjaan, dan ekonomi memiliki peran lebih besar dalam mengubah jumlah pernikahan. Semua pihak harus mempertimbangkan aspek ini secara komprehensif untuk mendukung hubungan yang berkelanjutan.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan