Ilmuwan Mengungkap Akar Efek Langka Pembekuan Darah terkait Vaksin COVID-19

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ilmuwan memungkinkan penyebab efek samping langka yang muncul pada penerima vaksin COVID-19 berbasis adenovirus, seperti AstraZeneca dan Johnson & Johnson. Penemuan ini dianggap penting karena bisa mendorong pembuatan vaksin dengan teknologi serupa yang lebih aman. Sebelum pandemi, jenis vaksin ini menjadi pilihan utama untuk vacinasi global. Namun, setelah program distribusi dimulai, beberapa kasus kondisi serius bernama VITT tercatat. Jenis ini menyebabkan pembekuan darah yang menyertai penurunan trombosit. Awalnya, penyebabnya belum jelas bagi dokter.

Penelitian internasional yang didiri Flinders University berhasil mengungkap bagaimana autoantibodi menargetkan protein PF4, yang secara tidak biasa muncul di tubuh. Hasil disajikan di jurnal New England Journal of Medicine. Peneliti, termasuk Profesor Tom Gordon, menjelaskan proses memahami ini memerlukan kolaborasi global. Pada 2022, riset menemukan faktor genetik tertentu yang meningkatkan risiko membentuk autoantibodi. Selanjutnya, penelitian 2023 menunjukkan risiko serupa juga muncul setelah terpapar adenovirus alami.

Temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa protein adenovirus, bukan komponen lain dalam vaksin, memicu reaksi. Dengan analisis molekul canggih, tim menemukan bahwa sistem imun keliru menganggap protein adenovirus sebagai PF4 tubuh sendiri. Dr Jing Jing Wang mengajak penyesuaian protein ini dalam vaksin mendatang untuk menghindari reaksi berbahaya.

Kasus VITT memicu perubahan kebijakan distribusi vaksin, dengan kelompok berisiko tinggi dialihkan ke jenis vaksin lain. Penelitian ini dianggap berilmu pengetahuan mendalam karena mengurai dasar genetik dan struktur respons imun. Meskipun VITT jarang, hasil ini penting untuk menjaga teknologi adenovirus tetap berpotensi.

Tiba-tiba, sistem imun dapat salah dalam mengidentifikasi protein. Sebagai contoh, protein adenovirus dipahami salah sebagai PF4 tubuh sendiri, yang memicu autoimmunitas. Ini membuka peluang untuk memodifikasi vaksin dengan menghilangkan protein tertentu. Ini bisa memastikan vaksin tetap memberikan perlindungan kuat tanpa risiko tak terduga.

Pemikiran ilmuwan ini menunjukkan bahwa inovasi vaksin tidak harus menghindari teknologi adenovirus. Dengan pemodifikasian cerdas, teknologi ini dapat tetap digunakan secara aman. Ini juga mengingatkan kita bahwa riset terus menginformasi desain vaksin mendatang. Secara keseluruhan, temuan ini menjadi landasan untuk vaksin masa depan yang lebih terkontrol dan aman.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan