Kondisi Pengunduran Militer Israel dari Gaza

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Syarat Penarikan Pasukan Israel dari Gaza

Mundur pasukannya Israel dari wilayah Jalur Gaza didasarkan pada kondisi krusial: Hamas wajib menyerahkan semua senjata serta infrastruktur militer mereka. Penegasan ini diberikan oleh Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, dalam persiapan fase kedua gencatan senjata yang dimulai setelah rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump. Fase ini mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap, khususnya dari garis kunci yang menjadi batas awal peluncuran senjata.

Israeli tidak akan memulihkan Hamas dengan senjata atau terowongan. “Slogan kami jelas: hingga terowongan terakhir, kami akan meluncurkan operasi,” tegas Katz dalam puncak di Surat Kabar Israel Yedioth Ahronoth. Pemerintah Tel Aviv menegaskan bahwa Hamas akan diberi 60 hari untuk mematuhi persyaratan sebelum konflik diperpanjang.

Fase kedua juga memungkinkan pembangunan ulang Gaza, penyerapan bantuan internasional, dan penyekretarisan komite administratif. Namun, Israel tetap mengancam jika Hamas tidak sepenuhnya mentor. Yossi Fuchs, Sekretaris Kabinet, memperluas rencana ini dengan anggaran pertahanan tambahan sebesar 350 miliar Shekel selama dekade.

Katz menekankan bahwa keamanan ekonomi Israel tergantung pada kemampuan menambah produksi senjata dalam negeri. “Kita memprioritaskan keterampilan menahan diri sendiri dalam konflik multi-front,” kata ia.


Perkembangan Terkini dan Analisis
Data terbaru menunjukkan Hamas masih memiliki jaringan terowongan yang rumah-rumahnya diarea raksasa. Analisis dari lembaga internasional mengungkap bahwa lebih dari 80% senjata Hamas bersumber dari pabrikan lokal. Keberhasilan menghentikan sirkulasi senjata membutuhkan kerja sama regional intensif.

Sebagai studi kasus, kota Khan Younis mengalami serangan berulang selama fase pertama gencatan. Perubahan struktur pemerintahan di Gaza, yang dimulai setelah fase kedua, kemungkinan memengaruhi dinamika konflik.


Penutup
Mengatasi konflik di Gaza bukan hanya tentang senjata atau garis geografis, tapi tentang keberatan kolektif. Setiap langkah pemutusan senjata atau penarikan pasukan adalah tanda kecil menuju damai. Namun, kesuksesan utuh membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak. Di tengah ketidakpastian ini, haraplah kita mempertahankan harapan bahwa siklus kekacauan akan berakhir tidak lagi dengan kekuatan, tetapi dengan pemahaman.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan