Khotbah Lembut dan Mengasuh di Istiqlal: Menonjolkan Sifatnya dalam Khotbah Terawih

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat menjadi lokasi ibadah tarawih perdana Ramadan 2026. Nasaruddin Umar, sebagai menteri agama dan imam besar masjid, memimpin berbagi ajaran dengan judul ‘Ramadan Hijau, Ramadan Bersama’. Dalam ceremanya,Dia mengajak umat untuk memahami makna simbol hijau dalam konteks agama Islam. Hijau bukan sekadar warna, melainkan simbol keyakinan yang mengasah, memelihara, dan menyebarkan kelembutan.

Nasaruddin menjelaskan, hijau terkait dengan nilai-nilai spiritual seperti kepekaan, keyakinan, dan keindahan. Ia membandungkan hijau dengan atribut positif Allah, seperti Maha-Lembut dan Mahapengasih. Sedangkan merah, diartikan sebagai simbol kekakuan dan perjuangan, merepresentasikan sisi yang lebih kuat namun kurang harmonis. Penjelasan ini bertujuan untuk mengajak para umat menonjolkan nilai-nilai hijau dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Islam, meski beragam dalam bentuk praktik, bersama menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan spiritual. Nasaruddin menekankan, Allah tidak hanya mengajak untuk ikhlas beribadah, tetapi juga untuk menjaga hati yang bersih dan tenang. Hijau, dalam perspektif ini, menjadi pemicu untuk manusia memelihara diri dengan sikap sabar, keyakinan, dan penuh kebaikan.

Data terbaru menunjukkan, praktik spiritual yang memadukan pelajaran agama dengan keberagaman alam semakin populer. Sejumlah komunitas pelanggan agama mulai mengadopsi aktivitas ramah lingkungan selama Ramadan, seperti pembersihan lingkungan atau pemberian makanan ke orang miskin. Contohnya, di kota Yogyakarta, organisasi masyarakat memulai proyek hutan ramah Ramadan yang menggabungkan ibadah dengan pemberdayaan lingkungan.

Praktik ini tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat keyakinan melalui tindakan tangih. Ilmiah dari Universitas Gadjah Mada mengajukan penelitian tentang hubungan antara aktivitas Ramadan ramah alam dan penurunan stres psikologis di kalangan pelanggan. Hasilnya mengindikasikan, pengamatan terhadap alam selama ibadah dapat meningkatkan ketenangan batin.

Dalam konteks global, simbol hijau semakin relevan. Perubahan iklim dan tantangan lingkungan meminta manusia untuk beradaptasi dengan cara hidup yang lebih harmonis. Masyarakat pelanggan agama, dengan nilai-nilai yang mendorong keutuhan, menjadi kelompok yang potensial untuk memimpin inisiatif ini. Ia tidak hanya berkontribusi pada kesejahteraan lingkungan, tetapi juga menjadi ekspresi fisik terhadap keyakinan sebagai manusia yang dapet tawaran Allah.

Ramadan 2026 menjadi kesempatan untuk mengembangkan praktik ini lebih dalam. Dengan mengaitkan ibadah dengan tindakan menyelamatkan lingkungan, manusia bisa menunjukkan bahwa keyakinan bukan hanya tentang doa atau ibadah di temple, tetapi juga tentang berani mengambil langkah konkret untuk memelihara planet ini. Mari kita selesaikan Ramadan dengan semangat hijau—mengasah keyakinan, memperbahagiakan sesama, dan berani berinovasi untuk mendorong perubahan positif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan