Pemkot Tasikmalaya Lamban dan Kurang Taktis: RSUD Dewi Sartika (2 Tahun Berdiri) Melanjutkan Penawaran Layanan BPJS dengan Ventilator yang Dikenai

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

RSUD Dewi Sartika di Kawalu, Tasikmalaya, masih belum dapat memberikan layanan bagi pasien BPJS Kesehatan meski sudah berdiri dua tahun. Alat kritis yang menghalangi pengembangan ini adalah ventilator yang belum tersedia. Tanpa alat ini, kooperasi dengan BPJS Kesehatan tidak bisa dilaksanakan.

Kebijakan pemerintah lokal mengasahkan pengadaan ventilator melalui APBD Perubahan 2026. Namun, sejumlah pihak mengkritik bahwa fondasi Biaya Tidak Terduga (BTT) yang lebih cepat bisa digunakan untuk kebutuhan segera. Sebagai contoh, BTT sebelumnya dipakai untuk tindakan darurat seperti patrolling Covid-19.

Myftah Farid, Mantan Sekretaris Umum IKA PMII, menilai keterlambatan ini sebagai kesalahan dalam perencanaan pemerintah. “Kondisi ekonomi masyarakat miskin semakin sulit. Tanpa pengadaan ventilator instan, BPJS tidak bisa terintegrasi, karena pasien tidak boleh dijarang,” ujarnya.

Kritiknya juga menyentuh kelemahan transparansi BTT. Masyarakat tidak mengetahui penggunaan fondasi ini secara detail. Myftah meminta pemerintah transparankan data dan mengoptimalkan BTT untuk kebutuhan kesehatan mendesak.

Contoh lain, penggunaan BTT untuk kebutuhan medis kritis seperti ventilator dapat menjadi solusi praktis. Di salah satu wilayah, fondasi ini berhasil mempercepat pengadaan alat pasien sakit darurat.

Krisis ini meminta aksi cepat dari pemerintah lokal. Prioritas mendistribusi BTT untuk layanan kesehatan mendesak harus dilakukan tanpa perhitungan panjang. Layanan medis wajib bersifat instan, terutama ketika masyarakat miskin yang berharap solusi cepat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan