Kubanya Darurat Bahan Bakar Akibat Blokade Minyak AS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Festival Habanos Dibatalkan Saat Krisis Bahan Bakar di Kuba
Jakartaโ€”Festival Habanos, acara tahunan yang menantang kolektor dandealers dari seluruh dunia, ditunda ke-26 edisinya karena krisis energi di Cuba. Pemilik monopoli global, Habanos S.A., menyatakan keputusan ini untuk mempertahankan “standar kualitas tertinggi.” Namun, tidak ada jadwal baru yang ditetapkan.

Pemadaman listrik di Cuba berkepanjangan, tandis krisis bahan bakar menjadi parah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menerapkan penghematan ketat: hotel ditutup, wisatawan dipindahkan, dan layanan transportasi umum berkurang. Pasokan avtur juga menipis, dengan tiga maskapai Kanada membatalkan penerbangan karena tidak dapat mengisi ulang bahan bakar di bandara Cuba.

Krisis ini tidak muncul tiba-tiba. Di awal Januari, Presiden AS Donald Trump mengancam tarif terhadap negara yang menjual minyak ke Cuba. Langkah ini disebut Washington sebagai tekanan untuk memaksa Havana melakukan reformasi politik dan ekonomi.

Cuba mengimpor sekitar 60% kebutuhan energi, majoritanya dari Venezuela dan Meksiko. Namun, pengiriman dari Caracas berhenti setelah operasi militer AS yang menggulingkan Nicolรกs Maduro, disertai peningkatan pengawasan industri minyak Venezuela. Meksiko pun menghentikan pasokan setelah ancaman tarif dari Washington.

Di tengah tekanan, perusahaan negara Tabacuba menyebut penundaan festival sebagai akibat “situasi ekonomi kompleks” akibat “blokade ekonomi, komersial, dan finansial” AS.

Kota yang terpapar sampah
Dampaknya paling tajam di kota-kota di Indonesia, terutama di jalan-hujan Havana. Kardus, plastik, botol bekas, dan kain lap menumpuk di trotoar. Bahan kimia berbau beranek-anek, sementara medsip pemerintah melaporkan hanya 44 dari 106 truk sampah masih beroperasi karena kekurangan solar.

“Sudah lebih dari 10 hari tanpa truk sampah,” ujar Jose Ramon Cruz, warga setempat. Sampah terlewat ke mana-mana. Warga lainnya mengkritik risiko kesehatan via media sosial, sementara pemerintah menerapkan penjatahan untuk menjaga layanan esensial di tengah kekurangan pangan, bahan bakar, dan obat.

Blokade AS: Ancaman Kehidupan
Embargo AS terhadap Cuba berlangsung lebih dari 50 tahun. Namun, pemerintahan Trump memperketat sanksiโ€”menarget kapal pengangkut minyak ke Cuba dan mengancam tarif pemasok. Washington menyebut ini tekanan politik. Organisasi seperti PBB meminta berhenti sanksi, dengan argumen bahwa pembatasan minyak mengabaikan hak asasi manusia.

Rumah sakit, tempat nyawa bertumpu pada energi, kini kekurangan bahan bakar menghambat perawatan intensif, ruang gawat darurat, dan penyimpanan vaksin. “Tindakan ini melanggar hak asasi,” tegas PBB.

Bantuan dari Spanyol dan Meksiko
Madrid bergerak dengan menyelurkan bantuan kemanusiaan ke Cuba melalui PBB, berupa pangan dan produk kesehatan. Keputusan ini diumumkan setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Spanyol dan Kuba. Sebelumnya, Meksiko mengirim 800 ton bantuan melalui kapal angkatan laut.

Trump ‘Tawarkan’ Jalan Keluar
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Cuba menjadi “negara gagal” dan mengundang Havana untuk berkompromi dengan AS. Namun, ketika ditanya apakah AS akan menggulingkan pemerintahan Cuba, Trump menjawab tidak akan diperlukan.

Panggung untuk Perubahan
Situs krisis ini menegaskan kebutuhan untuk solusi yang lebih inklusif. Blokade minyak tidak hanya menghancurkan ekonomi, tetapi juga nyawa. Sebagai masyarakat global, kita wajib mempertimbangkan dampak humanitaris politik ekonomi.

Di tengah gelap, bisa saja solusi ada dalam dialog, bukan sanksi. Setiap usaha untuk memperluas ruang bagi Kuba bisa menjadi langkah awal menuju keadilan.

(299 karakter)

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan