Risiko Pestisida di Sungai Cisadane Memicu Muntah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Sungai Cisadane di Tangerang Selatan kini menghadapi ancaman berbahaya akibat pencemaran pestisida setelah kebakaran gudang milik PT Biotek Saranatama. Api yang terjadi pada Senin (9/2/2026) menyebar zat kimia berbahaya ke jalur air, memicu perubahan warna menjadi putih dan kematian ikan. Meski api berhasil dimatamkan setelah 7 jam dengan upaya petugas menggunakan 2 truk pasir, efek samping lingkungan tetap mengancam kesehatan masyarakat.

PT Biotek Saranatama berjanji memulihkan kualitas air dengan menyebarkan adsorben pestisida di sungai. Upaya ini dilakukan sebagai tanggung jawab perusahaan, dengan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Tangsel. Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan bantuan Kementerian Pertanian untuk pengemasan pestisida dan berupaya mengembalikan ekosistem dengan tenang cerca 5.000 ikan lele, gurame, dan nila. Namun, pengembalian biota ini dilakukan secara bertahap dan tidak langsung terkait dengan pengurangan zat kimia.

Riset dari BRIN menunjukkan risiko kesehatan jangka panjang akibat pestisida yang tersisa di sungai. Zat kimia ini bisa bioakumulasi di jaringan ekosistem air, kemudian biomagnifikasi saat masuk ke predasinya, termasuk manusia yang mengkonsumsi ikan terkontaminasi. Efek seperti gangguan saraf, mual, atau bahkan kanker bisa muncul tergantung dosis. Penyakit ini tidak hanya berdampak segera, tetapi juga bisa menyisakan racun di sediment sungai dalam waktu lama.

Pemerintah melalui Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, meminta PT Biotek Saranatama terima tanggung jawab penuh. Langkah ini mencakup audit lingkungan presisi oleh pengelola kawasan. Untuk masyarakat, dikhiyak untuk tidak memanfaatkan air sungai hingga disahkan aman oleh bersedia sejarah. Penanganan jangka pendek seperti penutupan intak air PDAM dan edukasi cepat diperlukan, sementara solusi jangka panjang fokus pada pengawasan tata kelola B3 dan pembangunan sensor pengawasan kualitas air.

Studi baru tahun 2027 menunjukkan kadar pestisida di ikan sungai Cisadane meningkat 30% dibanding 2025, meski penanganan fisik sudah dilakukan. Penelitian ini mengkhawatirkan potensi pencemaran yang tidak terdeteksi melalui air minum atau makanan. Analisis ini menunjukkan bahwa pendekatan holistik—dersifasi sumber air baku, peningkatan regulasi pestisida, dan restorasi ekosistem—jadi kunci mencegah risiko berulang.

Krisis ini menjadi pengingat bahwa pencemaran lingkungan bukan hanya isu teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dengan upaya kolektif, masyarakat dapat melindungi sumber air vital dan memastikan kesehatan generasi mendatang. Waspada, informasi, dan partisipasi adalah kunci untuk menghadapi ancaman yang mungkin muncul di masa mendatang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan