Profil Perusahaan China-Prancis sebagai Peserta Tender Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Program mengubah sampah menjadi energi listrik (WtE) telah memasuki tahap tender dengan 24 perusahaan peserta, sebagian besar bersifat internasional. Persyaratan wajib bagi yang lolos adalah membentuk konsorsium yang bertujuan untuk melayani transfer teknologi ke perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda). Fadli Rahman, pengarah WtE Danantara Indonesia, menjelaskan fokus tahap awal pada empat kota: Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Proses tender dirancang dengan mekanisme transparan dan mengurangi risiko melalui pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) PSEL.

Beberapa peserta ternama berasal dari Eropa, Asia, dan Asia Tenggara. Berikut profil ketiga perusahaan tersebut:

  1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Francia)
    Perusahaan ini didirikan di Singapura pada 1997 sebagai bagian dari grup multinasional Veolia asal Prancis yang fokus pada pengelolaan lingkungan. Di Indonesia, entitasnya beroperasi melalui PT Veolia Services Indonesia yang mengelola pabrik daur ulang PET di Rembang. Kolaborasi dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA) menghasilkan pabrik daur ulang botol plastik yang beroperasi sejak 2021.

  2. China Conch Venture Holding Limited (Tiongkok)
    Berdwaja di Tiongkok sejak 2013, perusahaan ini mengkonsentrasikan bisnis WtE melalui solusi insinerasi dan pengolahan limbah padat. Mereka memiliki koperasi dengan PT Conch South Kalimantan Cement di Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai ‘Wajib Pajak Besar’ dan berdampingan dengan masyarakat lokal.

  3. Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
    Pemilik proyek WtE besar di Tuas South, Tiongkok, dan Jepang, perusahaan ini telah menanamkan mesin pengolah sampah di TPST Bantargebang, Jawa Timur, sejak 2019. Teknologi insinerator tingkat tinggi mampu menghasilkan energi listrik dari 100 ton sampah per hari.

Pembangunan WtE di Indonesia menargetkan solusi inovatif untuk mengurangi limbah plastik dan meningkatkan efisiensi energi. Proyek ini tidak hanya mengajukan manfaat lingkungan, tetapi juga peluang kolaborasi teknologi antara negara-negara.

Energi listrik dari sampah bisa mengubah tantangan lingkungan menjadi sumber daya strategic. Dengan pendekatan konsorsium, Indonesia dapat memperkuat kapasitas lokal sambil mempermudah akses teknologi terpadu. Ini membuka ruang untuk solusi jangka panjang dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan