Netanyahu: Semua Uranium yang Diperkaya Harus Dipindahkan dari Iran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Netanyahu: Semua Uranium yang Diperkaya Harus Dipindahkan dari Iran

Perdebatan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus berlangsung, dengan Pesan Mantan Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memberikan kondisi penting. Netanyahu menekankan bahwa semua kesepakatan entrek dugaan harus mencakup penukaran uranium yang telah diperkaya dari wilayah Iran. Pemberitaan dari AFP dan Al Arabiya menyertakan bahwa Netanyahu mengkritik kemampuan Teheran untuk mengembangkan teknologi pengayaan uranium, serta menawarkan batas terhadap pengembangan infrastruktur terkait.

Pernyataan tersebut dibahas saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menghadiri perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, yang digelar hari setelah perindangan AS ke Teheran. Putaran kedua perundingan ini direncanakan di Jenewa pada Selasa, 17 Februari 2026. Netanyahu menyarankan bahwa setiap perjanjian harus mencakup pengambilan semua bahan baku nuklir dari Iran, termasuk material yang telah dipinjaman ke tingkat 60 persen. Ia juga meminta penangkatan pengecewaan nuklir yang lebih mendalam, bukan hanya melalui prosedur awal.

Lapangan ulang dari CBS News menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan dukungan Israel jika insiden nuklir Iran tidak dapat diatasi melalui perundingan. Data ini mencerminkan kekhawatiran AS terhadap potensi Iran memproduksi bahan baku nuklir dengan ketersediaan 400 kilogram uranium yang diperkaya. Netanyahu tetap menganak-AS untuk menjalani proses inspeksi yang efektif, menggaris batas terhadap pembangkitan teknologi nuklir Teheran.

Perundingan ini kembali berlangsung setelah AS mengancam Iran dengan ancaman militer, serta mengarahkan kapal induk ke region Timur Tengah. Waktu ini terjadi setelah konflik Israel-Iran pada Juni 2025, yang memicu ketidakpastian dalam dialog diplomasi. Netanyahu menyoroti kebutuhan untuk solusi yang transparan, terutama dalam pengawasan terhadap program nuklir Iran.

Netanyahu juga meminta penanganan masalah rudal balistik, yang dianggap sebagai ancaman kritis. Keterangan ini mencerminkan keinginan Israel untuk memastikan bahwa tidak ada pengembangan teknologi yang bisa mengancam keamanan nasional. Meski begitu, tekanan diplomasi tetap menjadi jalur utama untuk mencegah escalasi konflik.

Analisis: Perundingan ini mencerminkan dinamika geopolitik yang kompleks direas, di mana kontrol bahan baku nuklir menjadi kekuatan strategis. Teknologi pengayaan uranium, yang merupakan inti dari perdebatan ini, memerlukan regulasi yang ketat untuk mencegah dampak negatif. Namun, ketidakpastian politik global dan konflik internal dalam negara bisa mengganggu kesesuaian.

Studi kasus: Experiensi sebelumnya menunjukkan bahwa perundingan nuklir sering terhambat oleh peristiwa politik atau perang. Misalnya, perundingan JCPOA (Jenis Komprehensif Paramadhan On Nuclear Iran) telah mengalami perubahan signifikan akibat dinamika internasional. Kasus ini mengajak pengamatan terhadap bagaimana negara berani menjalani dialog meski tekanan eksternal.

Insight: Kontrol uranium tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kepercayaan. Semakin transparan proses pengawasan, semakin besar kemungkinan kesepakatan yang berkelanjutan. Namun, keinginan untuk menguasai sumber daya strategis tetap menjadi bahan bakar dari konflik.

Penutup: Perundingan ini menjadi pengingat bahwa dialog nuklir membutuhkan komitmen mutlak dari semua pihak.Tanpa keberatan dan kejelasan, meski pun ada kesepakatan, risiko konflik tetap tinggi. Semua pihak harus tetap fokus pada solusi yang mensosialisasi, bukan sekadar kepentingan politik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan