Banyak para penggemar anime menunjukkan ketakutan terhadap adaptasi live action dari manga atau anime yang mereka sarap. Kesidikannya tumbuh karena banyak adaptasi tipe ini yang belum sepenuhnya memangkas cerita asli. Berikut beberapa rekomendasi live action yang bisa menabrak hati dengan keunikan yang serupa seperti anime.
Live action adalah gaya produksi di dunia film dan televisi yang mengadopsi aktor manusia sebenarnya, bukan karakter animasi atau ilustrasi digital. Metode ini menggunakan kamera nyata untuk mencaptur gerakan dan emosi nyata, sehingga memberikan sensasi lebih realistis.
Bagi yang belum kenal, film Alice in Borderland berasal dari manga dengan judul identik karya Haro Aso. Versi live action ini lebih dikenal karena suksesnya dibanding animenya. Serangannya Netflix berdampak pada banyak penonton yang mengenal anime setelah menonton versi film.
Dibintangi oleh Kento Yamazaki, cerita ini mengikuti tokoh utama yang tiba-tiba terjebak di dunia misterius bernama Borderland. Di sini, mereka dipaksa bertarung dalam permainan berbahaya untuk bertahan hidup.
Film Rurouni Kenshin dikenal sebagai adaptasi live action terbaik. Meski versi animenya sudah populer, seri ini menawarkan kualitas yang tidak kalah. Koreografi pertarungan lebih dinamis, dan pemuda Takeru Satoh berhasil menghidupkan nuansa zaman Meiji dengan keterangan yang akurat.
Kenshin, yang dulu dikenal sebagai pembunuh bayaran, memilih untuk mengubah kehidupannya. Ia menggunakan kekuatan untuk melindungi orang lain, tetapi menyadari kesulitan berdamai dengan masa lalu.
Erased diadaptasi Netflix dengan rythm lebih santai. Versi serial ini lebih mirip manga, dengan penambahan cerita latar belakang Gaku Yashiro. Akhirnya lebih sesuai dengan sumber asli dibanding versi anime yang sedikit berbeda.
Satoru Fujinuma memiliki kemampuan membalik waktu untuk mencegah Ancam. Setelah menyaksikan kematian ibunya, ia kembali ke masa dulu untuk mengungkap pencurian berantai. Tujuannya adalah menyelamatkan nyawa ibunya di masa depan.
Death Note hadir dalam berbagai format, termasuk film Netflix. Namun, penulis merekomendasikan fokus pada ketiga film pertama: Death Note (2006), Death Note: The Last Name, dan L: Change the World. Film Netflix ini dianggap buruk karena menyimpang dari esensi cerita, terutama pertarungan psikologis yang menjadi ciri khas.
Light Yagami menemukan buku ajaib yang bisa menghilangkan nyawa dengan menulis nama. Ia menggunakan kekuatan itu menghapus penjahat, tetapi harus menghadapi L, detektif yang tak surga.
Tokyo Revengers bercerita tentang Takemichi yang ingin melindungi pacarnya Hinata dari Tachibana. Setelah terlempar kembali ke masa dulu, ia berusaha mengubah nasib Tokyo Manji Gang.
Kisah Kosei Arima, pianis yang kehilangan kemampuan mendengar, berubah setelah bertemu Kaori Miyazono. Dua orang ini menciptakan hubungan yang penuh emosi dan musisi.
5 Centimeters per Second, film anime yang penuh kesedihan, diadaptasi live action dengan rilis 2025. Versi ini mampu menyampaikan perasaan yang sama seperti versi animenya.
Takaki Tono dan Akari Shinohara, dua sahabat sejak kecil, mengalami pemisahan fisik. Walau begitu, keduanya berharap bertemu kembali.
Adaptasi live action ini menonjolkan tren yang semakin populer. Banyak film dari anime yang diterjemahkan dengan gaya realistis. Berbagai platform seperti Netflix terus menawarkan opsi yang menarik.
Penonton dapat menasihi eksplorasi lebih lanjut. Adaptasi ini tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menawarkan perspektif baru. Meskipun skeptisisme tetap ada, banyak yang menemukan kesenangan dan kekuatan dalam versi live action.
Mereka bisa mencoba salah satu rekomendasi di atas. Setiap film punya cerita unik yang bisa menarik perhatian. Seperti yang dikatakan, hidup pun seperti game—ada risiko, tapi juga peluang untuk meraih sesuatu yang special.
Baca juga Anime lainnya di Info Anime & manga terbaru.
