Rakorwil: KAHMI dan Kegelisahan di Timur Jawa Barat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID – Kota Tasikmalaya berkeluarga, Senin 14 Februari 2026. Keberlanjutan pertemuannya bukan karena hari keberagaman, melainkan karena alumni HMI Jawa Barat bermuara tentang isu-isu yang belum selesai.

Di salah satu sudut, Zenzen Jaenudin, Koordinator Presidium MD KAHMI Tasikmalaya, Hadir. Kehadirannya tidak hanya untuk mengikuti Rapat Koordinasi Wilayah III. Ia membawa pesan yang mendesak dari masyarakat lokal.

Rakorwil umumnya dianggap sebagai konsolidasi struktural, namun kali ini fokusnya lebih luas. Topiknya mencakup arah masa depan KAHMI Jawa Barat, bukan hanya organisasi, tapi juga dampak sosial.

Seperti yang disebut dalam kutipan: “Beasiswa Pemersatu adalah ambisi besar.” Program ini ditujukan untuk kader melalui kampus KAHMI, termasuk IAI Tasikmalaya. Tujuannya bukan sekadar mengurangi beban biaya kuliah, tetapi membangun kualitas kader yang memadai.

Satu poin yang dibahas dengan ketat adalah investasi SDM. Pendekatan ini menekankan bahwa kader harus tidak hanya terlatih academik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis. Tanpa itu, beasiswa menjadi bukit kosong.

Pembicaraan kemudian beralih ke bidang pendidikan. Isu guru madrasah dan tenaga honorer menjadi fokus. Mereka sering berdampak karir dan kesejahteraan karena kurangnya pengakuan resmi. KAHMI Jawa Barat setuju bahwa advocacy harus terwujud, bukan hanya dibicarakan.

Pemikiran melanjutkan ke aspek strategis. Provinsi Priangan Timur kembali dibahas, bukan sebagai fanfiksi, melainkan sebagai solusi untuk penanganan pelayanan yang terpinggirkan.

Di Rakorwil, kesepakatan jelas: pengawalan pembentukan provinsi tidak hanya wacana. Harus menjadi langkah konkret agar pemerintahan lebih dekat dan responsif.

Keseluruhan diskusi mencerminkan kebutuhan pengembangan yang inklusif. KAHMI Jawa Barat memahami bahwa kesuksesan tidak hanya dari struktur, tapi juga dari kehadiran di lapangan.

Setelah ini, penting untuk mempermalukan kerja sama antarparti dan memastikan kebutuhan daerah diangkat. Penuntutan yang konsisten bisa memicu perubahan nyata. Semua pihak harus berpartisipasi, baik itu kader, guru, maupun masyarakat. Hanya demikian, vision KAHMI bisa terwujud dengan nyata.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan