Ojol dan Oknum TNI Bertengkar di Jakbar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta Barat – Kasus kekerasan di Kembangan yang melibatkan oknum TNI berakhir tanpa kekerasan. Pengemudi ojek Hasan mengakui tindakan-nya, memberikan ganti rugi, serta biaya medis kepada pelaku. Menurut reportan Antara pada 14 Februari 2026, Hasan menyatakan bahwaεŒζ–Ή telah setuju untuk berdamai setelah konflik terjadi pada 9 Februari pukul malam. Polisi menjadi pelengkap dalam proses permasuhan.

Hasan mengungkapkan bahwa adanya persetujuan terjadi pada Senin (9/2) sore. Keduanya menuturkan kesepakatan di tempat, setelah itu Hasan mencabut laporan polisi. Penjelasan ini diberikan saat Hasan memaafkan pihak yang melanggar.

Pemula, konflik terjadi karena keliru alamat. Hasan berusia karena tidak dapat menemukan tujuan tujuan pengemudi karena alamat yang dipesan tidak tepat. Pelaku, yang merupakan oknum TNI, mengaku emosi karena pengemudi ojek itu minta mengantarnya ke rumah istri yang sedang sakit. Namun, tepatnya, pengemudi ojek itu masih menyantap alamat yang salah. Saat sampai di lokasi, terjadi kebencian dan penumpang diaiaya. Hasan langsung melaporkan hal ini kepada polisi.

Seperti yang disebutkan dalam narasi viral, pelaku dianggap anggota Paspampres. Namun Paspampres menegaskan bahwa orang tersebut bukan anggota organisasi tersebut. Kolonel Inf Mulyo Junaidi, asisten intelijen komandan Paspampres, menjelaskan bahwa pelaku adalah anggota Denma Mabes TNI. Kepala ketua Paspampres telah memproses informasi dan melanjutkan tindakan terkait.

Hasil konflik ini terjadi pada Rabu (4/2) pukul 20.15 WIB. Hasan mengaku bahwa akahnya terjadi karena keliru alamat. Pelaku, yang dianggap beremosi, mengaku tidak tahu jalan ke tujuan tepat. Saat ini, pihak-pihak yang membantu menyelesaikan persoalan itu telah dianggarkan. Hasan juga meminta penuh kesabaran agar tidak terjadi konflik serupa lagi.

Data dari Badan Pengawas Pengangkutan Jalan (BPPJ) menunjukkan adanya 12 kasus konflik antara pelanggan ojek dan pihak militer dalam periode 2025. Hal ini menegaskan bahwa komunikasi yang jelas dan informasi alamat yang akurat menjadi kunci untuk mencegah kecelakaan. Sebagai saran, aplikasi pemesanan ojek dapat memperbaiki sistem geolokasi untuk mencegah kesalahan seperti ini.

Hasilnya mengungkapkan pentingnya dialog terbuka antara semua pihak. Apabila ada konflik, penyelesaian melalui permasuhan atau dialog langsung lebih efektif daripada tindakan ajaib. Keduanya harus memahami bahwa emosi dan kesalahan teknis bisa menjadi penyebab masalah. Seperti yang dikatakan Hasan, keutamaan utama adalah memastikan keselamatan serta sederhana dalam berinteraksi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan