Jakarta – “Saya bernama Mohammad Deepak.” Satu kalimat kunci ini memetik nama Deepak Kumar sebagai pahlawan tak terduga di India. Pria Hindu ini diadili sebagai “ikon sekuler India” dan “contoh pluralisme yang ideal” setelah melindungi seorang pedagang Islam.
Peristiwa yang membuat Deepak menjadi pusat perhatian terjadi di Kotdwar, Uttarakhand, pada 26 Januari 2026. Di sini, ia menghadapi ancaman dari aktivis Bajrang Dal, organisasi yang sering berkekinian melayangkan kebencian terhadap umat Muslim. Peristiwa ini mulai viral setelah video insiden memukulnya.
Deepak mendapati situasi ketika dua kelompok berdebat di toko pakaian Baba School Dress and Matching Centre milik Vakeel Ahmed, umur 68 tahun. Aktivis-maksa menghapus istilah “Baba” dari nama toko, yang diyakini berhubungan dengan keagamaan Hindu. Deepak mendekati untuk mencegah konflik.
“Adakah Muslim tidak berhak untuk bertahan di India?” tanya ia dalam video. Pengucapan ini menghabiskan aktivis. Setelah dibelakangi, mereka meninggalkan lokasi. Namun, beberapa hari kemudian, lebih dari 150 pendukung Bajrang Dal memprotest di luar gym Deepak.
Polisi menerima laporan terhadap kelompok anonim dan Deepak sendiri. Reaksi publik melesat: pendukung Deepak memohon dukungan finansial, sementara kritikus menyalahkan. Ketimpang, jumlah pengikut di media sosial naik pesat, dengan video pendeknya yang mengungkapkan identitasnya sebagai manusia tanpa batas agama yang mendapatkan lebih dari lima juta suka.
Deepak saat ini mengelola pusat kebugaran yang sepi karena ancaman. Keluarganya mengalami trauma, dan dia menghadapi ancaman kematian. Meskipun begitu, ia tetap berjuang. “Jika situasi serupa bangun lagi, saya akan tetap berdiri melawan penyimpangan,” ujarnya.
Cerita ini menjadi simbol harapan di tengah kekacauan komunal. Aktivis politik Rahul Gandhi memujinya sebagai “pahlawan konstitusi”. Analisis media menekankan bahwa aksinya mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia adalah negara sekaligus.
Data terkini menunjukkan bahwa protes komunal masih menjadi isu sensitif di India. Studi tahun 2025 mengungkapkan kenaikan kasus kejahatan berbasis agama, tetapi individu seperti Deepak menunjukkan potensi perubahan melalui keberanian.
Deepak tidak pernah merencanakan bahwa tindakan kecil ini akan berdampak besar. Namun, pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap tindakan berani bisa menjadi puncak kebanggaan. Seperti yang ia katanya, “jika kita diam hari ini, generasi depan juga akan belajar untuk diam”.
Pendapat ini melingkar pada pentingnya keberanian individu dalam menciptakan perubahan sosial. Di era digital, klaiman seperti Deepak bisa menjadi penguatmuatan untuk sekaligus menghadapi ancaman.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.