Aplikasi Kencan ‘Sekarang Enggak Banget’ untuk Deteksi Penurunan Angka Pernikahan di RI

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parafrase Artikel:

Talitha Rarasty, seorang penata rias yang berumur 36 tahun, masih belum memiliki pasangan hidup. Untuk ia, pernikahan dianggap sebuah pencapaian hidup seperti mencapai fase dari sekolah, kuliah, atau kerja. Namun, keberhasilan ini belum tercapai meski ia terus berusaha. Ia mengakui kesulitan dalam mencari pasangan, terutama karena pengalaman negatif dengan aplikasi kencan. Setelah beberapa kali bertemu pria yang sudah menikah atau memiliki pasangan, ia berhenti menggunakan platform tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 70% warga Indonesia berusia 16 hingga 30 tahun masih single. Angka pernikahan di Indonesia telah turun sebesar 30% dalam dekade terakhir, dari 2,1 juta pernikahan pada 2014 menjadi 1,47 juta pada 2024. Usia rata-rata menikah juga menurun, dengan 21 tahun untuk wanita dan 22 tahun untuk pria.

Sosiolog Desintha Dwi Asriani dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa pernikahan sekarang bukan cuma tentang perayaan atau anak. Tantangan seperti pengasuhan anak, biaya hidup, dan kebutuhan sumber daya ekonomi menjadi faktor utama yang menjauhkan banyak orang dari pengalaman ini. Meski begitu, pernikahan tetap dikaitkan dengan nilai-nilai sosial dan agama di Indonesia.

Phenomena “Marriage is scary” menjadi tren, terutama di media sosial seperti TikTok. Generasi Z sering merasa takut jika pasangan mereka tidak mampu mengurus anak, tidak beragama, atau tidak komitmen. Kombinasi ini membuat banyak individu menghindari aplikasi kencan online.

Sebagai solusi, layanan seperti Cindo Match menawarkan pertemuan langsung di pusat perbelanjaan. Pelanggan membayar untuk melihat foto asli pasangan potensial, dengan harga mulai dari Rp150.000. Pendiri Angeline Chandra menguji model ini berdasarkan praktik pasar pernikahan tradisional China. Layanan ini berhasil membantu 40 pasangan berpacaran, dengan dua pasangan yang berhasil menikah.

Pemerintah juga mendukung melalui pernikahan massal gratis. Di Masjid Istiqlal, 50 pasangan didampingkan dengan mas kawin, makanan, dan hadiah. Ini menjadi alternatif bagi mereka yang mengalami kesulitan finansial. Sosiolog Desintha menekankan keperluan dialog lebih luas dari pemerintah untuk mempromosikan pernikahan sebagai institusi penting.

Talitha, meski belum menikah, tidak merasa kesenangan karena situasinya. Ia berusaha hidup sehat, bekerja, dan tetap terbuka untuk peluang. “Aku manfaatkan waktu sendiri, nikmatin hidup tanpa tekanan,” kata ia.

Pencarian pasangan tetap memungkinkan. Dengan adaptasi terhadap teknologi dan tradisi, serta dukungan pemerintah, banyak jalur yang bisa diselami untuk mencapai mimpi pernikahan.

Penutup:
Meskipun tren modern seperti aplikasi kencan punya kekurangan, solusi alternatif dan kesadaran sosial dapat membantu generasi muda menemukan jalan ke pernikahan. Setiap individu punya cadangan waktu dan harapan untuk meraih mimpi ini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan